Hagia Sofia Saksi Kunci Jalan Sunyi Kaderisasi

Sofyan Siroj Abdul Wahab (CEO QR Foundation)

Tulisan ini adalah tulisan keempat yang akan menutup serial konversi Hagia Sophia kembali menjadi masjid. Pada seri terakhir ini, kita akan coba sedikit kuak, cerita di balik cerita. Sambutan umat Islam begitu riuh. Umat bergembira menyambut kebijakan Turki membuka kembali Hagia Sophia sebagai masjid setelah lebih dari setengah abad dijadikan museum oleh rezim Sekular Kemal Ataturk.

Saat ini, Erdogan, sekali lagi disanjung sebagai salah satu pemimpin politik yang menunjukkan komitmennya pada umat Islam. Sepak terjang politik luar negeri Turki pun bagi sebagian masyarakat dianggap menunjukkan keberpihakan kepada Islam. Dari isu Rohingya hingga ke isu Suriah, Turki berani untuk menunjukkan sikap politiknya yang memberi jalan kepada pengungsi Suriah dan menekan Rezim Bashar Assad.
Ada sedikit  kekeliruan pemahaman  seringkali terjadi ketika melihat pesona (politik) Erdogan yang pada akhirnya membawa kita pada personalisasi politik. Erdogan dianggap sebagai satu pribadi yangmenjadi aktor utama penyelamat (muka) umat Islam di dunia, setelah begitu hancurnya kredibilitas dan integritas pemimpin-pemimpin dunia Islam lainnya.

Tak dapat kita pungkiri perkembangan di Turki merupakan satu kerja kolektif kelompok (amal jamai)  yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu umat Islam. Namun, Erdogan telah terlanjur  dianggap sebagai satu figur tak tergantikan. sehingga seringkali menimbulkan fanatisme buta, terutama ketika individu melakukan kesalahan, akan dilihat dengan berbagai pembenaran. Atau yang lebih parah, sebuah pencapaian politik dilihat sebagai hasil karya satu individu saja dan mengabaikan upaya-upaya sistematis di baliknya.Pemerintahan

Turki sejak di bawah pengaruh Adalet ve Kalkınma Partisi (AKP) memiliki citra politik luar negeri yang dapat dikatakan peduli pada isu-isu kekinian  umat Islam.kondisi  ini semakin memperkuat kenangan akan kekuatan politik Turki Usmani.

Berbagai kisah  hegemoni politik Turki Usmani di atas masyarakat yang plural (membentang dari Asia, Eropa Timur, Afrika hingga jazirah Arab) memberi kesan satu masyarakat yang begitu plural namun setara. Turki dianggap mampu menunjukkan izzah kaum muslimin di berbagai belahan dunia, sebagai pelindung umat Islam selama ratusan tahun. Hal ini pula yang pernah ditunjukkan Kesultanan Aceh  dan beberapa kesultanan Islam di persada nusantara ini  yang menganggap mereka sebagai vassal di bawah perlindungan kekhalifahan Turki Usmani.

Keagungan dan kemuliaan Kekhalifahan Turki Usmani memang sudah runtuh, kenangan akan  citra warisan Usmani ini kembali dicoba dibangun kembali oleh pemerintah Turki, terutama oleh partai penguasa, AKP. Citra neo-ottomanisme, demikian pengamat politik menyebutnya, merupakan bagian dari politik luar negeri Turki. (Hakan Yavuz: 2016)

Sejarah panjang Kaderisasi dakwah di Turki.

Pertama, Masa Turki Usmani. Turki Usmani dalam catatan sejarahnya merupakan kekuasaan terpanjang dalam sejarah kekuasaan Islam bahkan dunia yaitu 5 abad lebih. Memiliki 8 orang sultan dan 30 orang Khalifah dapat kita bayangkan betapa kuatnya kaderisasi kepemimpinan yang dimiliki oleh keluarga Turki Usmani ini. Sehingga menjadikannya kekuasaan pemerintahan terkuat dan terlama di dunia ini. Ini mustahil tanpa adanya kaderisasi kepemimpinan di dalamnya.

Pendekatan unsur-unsur dakwah Islam dalam perkembangan kekuasaan Turki Usmani sebagaimana yang dituliskan Sultan Abdul Hamid II dalam buku hariannya menyebutkan 3 pilar utama dari kekuatan Turki Usmani adalah Syariah Islam (Al-Quran dan Sunnah)  sebagai sumber hukum dan inspirasi pergerakannya, keluarga Usmani sebagai pilar kepemimpinan dan Masjid sebagai pusat peradabannya.

Ketiga pilar utama inilah yang dirusak oleh para musuh Islam dan musuh kesultanan Turki Usmani ini melalui gerakan sekulerisasi. Sekali lagi ini juga gerakan kaderisasi. Intinya runtuhnya Turki Usmani adalah kesuksesan dari kaderisasi seruan sekulerisasi di Turki. Secara perlahan Alqur’an dan Sunnah dijauhkan dari masyarakat dengan pendekatan dan isu-isu modernisasi dan gerakan pembebasan pemikiran.

Legitimasi Keluarga Usmani di rongrong secara internasional disebut sebagai rezim diktator dan otoriter karena sudah terlalu lama memerintah. Gerakan-gerakan dan seruan-seruan melalui media massa saat itu yang massif memisahkan masjid terpisah dengan lembaga pendidikan (universitas), sedangkan pada umumnya pada waktu itu masjid dan lembaga pendidikan selalu berdampingan.

Maka mulailah perlahan-lahan kader-kader sekulerisasi mendapatkan pengaruh dan perang dunia pertama, di mana Turki Usmani terlibat dan kalah perang mengakibatkan semakin cepatnya keruntuhan tersebut. Melalui gerakan Turki Muda yang dipimpin oleh Mustafa Kemal yang dicitrakan sebagai Pahlawan perang Turki akhirnya membubarkan Kekhalifahan Turki Usmani dan mendeklarasikan berdirinya Negara Turki Sekuler, berakhirlah sejarah panjang kekuasaan Kekhalifahan Turki Usmani pada tahun 1924.

Kedua, pertarungan kaderisasi Periode Turki Sekuler. Kekalahan perang dari Turki Usmani otomatis menjadikan wilayahnya di bagi oleh pemenang perang saat itu dan menjadi Negara jajahan. Setelah perang dunia kedua negara-negara jajahan itu menjadi lebih kurang 50 negara sampai saat sekarang ini.
Ketika Mustafa Kemal berkuasa di Turki semua symbol Islam diberangus, kekhalifahan dibubarkan dan keluarga Usmani dihinakan, Azan wajib berbahasa Turki, gaya berpakaian mengikuti gaya eropa dan merupakan haram dan terlarang memakai hijab bagi para perempuan muslimah. Hagia Sophia dijadikan Museum karena mereka tahu itu adalah simbol kaderisasi peradaban Islam sekaligus simbol penaklukan terhadap sekulerisasi.

Satu-satunya madrasah yang dibiarkan hidup dan berdiri hanyalah madrasah Imam Khatib yang diharapkan rezim sekuler pada waktu itu dapat melahirkan kader imam dan khatib yang dapat menjadi perpanjangan rezim di masyarakat. Tokoh dai dan ulama pejuang yang sangat berpengaruh pada saat ini adalah Syekh Said Nursi dan para muridnya melalui karyanya yang terkenal Risalah Nur yang sepenomenal Fi Zhilalil Qur’annya Ust Sayyid Quthb karena isinya hampir sama yaitu pemahaman kembali Alqur’an secara mendalam ke dada-dada kaum muslimin.

Babak pertama pertarungan kaderisasi, ini adalah Ali Adnan Menderes yang dikenal dengan Syahid Azan. Kisah lengkapnya bisa dirunut kembali serial tulisan ini. Berhasil mengembalikan azan ke bahasa Arab dengan perjuangan secara konstitusional namun di kudeta oleh militer yang menjadi perpanjangan tangan pengamanan nilai-nilai sekulerisasi di Turki. Tepatnya pada  tanggal 27 Mei 1960. Merupakan kudeta militer pertama tentara Turki sejak Republik Turki berdiri tahun 1923, dimotori oleh 38 perwira yang dipimpin oleh jendral Gorsel Jamal.

Babak kedua pertarungan kaderisasi, adalah sosok Necmettin Erbakan. Pada tahun 1970 Necmettin Erbakan yang merupakan guru dari Erdogan ini, mendeklarasikan berdirinya gerakan politik keagamaan mili gorus. Gerakan ini bertumpu pada dua konsep yaitu; miligorus  (Pandangan nasional) dan Adil Duzen (tatanan keadian) yang merupakan persepsi afialiasi pada pandangan komunitas yang dibangun oleh Nabi Ibrahim. Intinya gerakan nasional keagamaan bertumpu pada system kaderisasi kepemimpinan model Nabi Ibrahim As yang dikenal sebagai Bapaknya para nabi. Intinya kaderisasi pemimpin sekaligus kaderisasi komunitas rakyat yang akan dipimpin.

Milli dalam bahasa turki akarkatanya adalah millet (Bangsa, Menurut Al Qur’an, konsep “millet” berarti komunitas yang berkumpul di sekitar seorang Nabi dan nilai-nilai yang disampaikannya (QS. An-Nisaa : 125, QS. Al-An’am : 161), yang kita kenal dengan istillah (Millah Ibrahim) konsep itu tidak merujuk pada suatu bangsa atau etnis. Sedangkan “görüş” memiliki arti “pandangan” atau “persepsi”. Intinya adalah sekolah kepemimpinan dan sekaligus madrasah pembentukan ummat yang akan mendukung kepemimpinan tersebut. Kalau pada babak sebelumnya yang menjadi inti pergerakannya adalah kaderisasi dari alumni madrasah Imam Khatib, paa babak ini ditambah dengan yayasan dan NGO yang dalam bentuk khidmat kepada masyarakat. Terutama pemberdayaan ekonomi karena ulah prilaku korupsi dari pemerintahan sekuler militeristik Turki menghancurkan perekonomian negara.

Dikutip dari kajian Gonul Tol & Yasemin Akbaba dalam Islamism in Western Europe : Milli Görüş in Germany menjelaskan Milli Görüş adalah komunitas Islam yang secara komprehensif mengatur kehidupan umat Islam. Dalam manifesto Milli Görüş yang diterbitkan pada tahun 1975, Erbakan menekankan pentingnya pendidikan moral dan agama, industrialisasi, pembangunan dan kemandirian ekonomi dalam membangun “tatanan adil” yang melindungi hak orang-orang yang kurang beruntung dan tertindas secara sosial.
Bahkan  ideologi Milli Görüş, keadilan sangat penting dan terkait erat dengan Islam. Model politik atau sosial apa pun yang menyimpang dari Islam dipandang cenderung tidak adil. Manifesto Milli Görüş pada saat itu menganggap Pasar Bersama Eropa sebagai upaya untuk asimilasi dan de- Islamisasi Turki. Milli Görüş kemudian menyerukan hubungan ekonomi dan politik yang lebih dekat dengan negara-negara Muslim.

Sebagai perwujudan politik keagamaan, ekspresi politik pertama dari serangkaian partai Islam yang dipimpin oleh Necmettin Erbakan adalah pembentukan Milli Nizam Partisi (MNP) pada Januari 1970. Partai ini mendukung wacana tatanan ekonomi dan sosial baru berdasarkan prinsip “nasional” yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Barat. Dalam pandangan MNP, identitas dan masa depan Turki adalah dengan dunia Muslim, bukan dengan Barat. MNP dibubarkan setelah intervensi militer pada tahun 1971 dengan alasan karena partai itu menentang sekularisme.

Partai politik kedua Pasca pelarangan MNP, Necmettin Erbakan kemudian mendirikan Milli Selamet Partisi (MSP) pada Oktober 1972. Ideologi MSP menyatukan Islam dan nasionalisme Turki, sedangkan slogannya adalah “Yeniden Büyük Türkiye” atau Turki Hebat Sekali Lagi. MSP menyatakan bahwa proses Westernisasi telah memecah-belah masyarakat Turki dan kebijakan industrialisasi yang berdasar pada industri nasional Anatolia akan menciptakan negara yang kuat. Erbakan kemudian menyerukan penciptaan Pasar Bersama Muslim, dengan dinar Islam sebagai mata uang bersama dan pengembangan Aliansi Pertahanan Muslim.

Lagi-lagi terjadi  kudeta militer pada pada tahun 1980, MSP juga dibubarkan bersamaan dengan partai politik lainnya. Ketika militer kembali ke baraknya pada tahun 1983, Erbakan mendirikan partai baru lainnya yaitu Refah Partisi. Ideologi Refah tidak berbeda jauh dengan MSP dan MNP. Kecenderungan politik dan ekonomi masyarakat Turki pada periode 1980 hingga 1990-an menguntungkan kelompok Milli Görüş. Baik militer maupun pemerintah mendukung pandangan nasionalis tentang Islam. Kelas menengah baru, gerakan dan jaringan Islamis juga menyediakan modal sosial untuk membangun jaringan bisnis dan NGO.
Dampaknya, kelompok Milli Görüş menyaksikan kebangkitan yang kuat pada awal 1990-an.

Dalam pemilihan lokal Maret 1994, Refah mendapatkan 19 persen suara dan memenangkan kursi walikota di 28 kota, termasuk dua kota terbesar di Turki, yaitu Istanbul (Recep Tayyip Erdoğan, Presiden Turki saat ini) dan Ankara (Melih Gökçek). Dalam pemilu nasional 1995, Refah mendapatkan 21,6 persen suara dan membentuk koalisi dengan Doğru Yol Partisi (DYP) dan mengantarkan Necmettin Erbakan sebagai perdana menteri Turki.

KemenanganRefah mengirimkan gelombang kejutan pada kubu sekuler, terutama militer. Untuk pertama kalinya sejak berdirinya Republik Turki pada tahun 1923, Turki dipimpin oleh partai dan perdana menteri Islamis.
Pada 28 Februari 1997, Dewan Keamanan Nasional yang didominasi militer memberikan Erbakan daftar rekomendasi untuk pelarangan aktivitas anti sekularisme. Erbakan menolak keras penerapan rekomendasi tersebut. Militer melakukan sejumlah manuver politik dan memobilisasi sejumlah partai sekuler untuk memaksa Erbakan mengundurkan diri dari kursi perdana menteri pada Juni 1997. Peristiwa tersebut merupakan kudeta “sunyi” terhadap pemerintahan Islamis. Pada Januari 1998, Refah Partisi dilarang, kemudian Erbakan dan para pendukung utamanya dilarang berpolitik selama lima tahun.

Babak Ketiga pertarungan kaderisasi, dipimpin oleh Erdogan yang merupakan murid dari necmettin Erbakan juga merupakan alumni dari madrasah Imam Khatib. Setelah berkali-kali dikudeta oleh militer akhirnya dalam pergerakan mili gorus terdapat dua perbedaan pendekatan pandangan untuk melanjutkan perjuangan, kelompok senior tetap dengan pendekatan praktis Islamisnya dan tidak mau berkompromi dengan pihak sekuler mendirikan partai baru bernama Fazilet Partisi dan tidak lama setelahnya juga mengalami nasib serupa dan dilarang oleh Mahkamah Konstitusi pada Juni 2001.

Sedangkan kalangan muda yang dimotori oleh Erdogan, Muhammad Dovugtulu dan dan Abdullah Gul mendirikan mendirikan partai baru yaitu Adalet ve Kalkınma Partisi (AKP) dengan Erdoğan sebagai ketua partainya. Para pendiri AKP bersikap terbuka untuk melakukan kerjasama dengan kekuatan politik sekuler. AKP juga menyatakan  kesetiaan partai pada nilai-nilai dasar sekularisme dan konstitusi Republik Turki, sebuah sinyalemen munculnya Post-Islamisme dalam sejarah gerakan Islam di Turki. AKP mendefinisikan dirinya bukan sebagai partai Islam tetapi lebih sebagai partai demokratis konservatif mirip dengan partai demokrasi Kristen di Eropa Barat. AkP kemudian memenangkan pemilu nasional 2002 dan kemudian mengantarkan Erdoğan menjadi perdana menteri.

Dengan segala strategi politik dan kesabaran dalam gerakannya AKP dan kaderisasi yang matang di segala bidang akhirnya AKP dan  Erdogan cukup berhasil dengan baik mengimplementasikan cita-cita perjuangan panjang itu dengan langkah politik yang berbeda. Walaupun pernah ada percobaan kudeta pada tahun 2016, dengan komunitas masyarakat muslim  yang sadar akhirnya dapat menggagalkan kudeta dengan komandonya adalah dari masjid-masjid seperti puisi yang pernah dibacakan oleh Erdogan di kala menjadi Walikota Ankara yang menyebabkannya kemudian dimasukkan ke dalam penjara.

Masjida adalah barak kami
Kubah adalah penutup kepala kami
Menara adalah bayonet kami
Orang-orang beriman adalah tentara kami
Tentara ini yang menjaga agama kami
Hagia Sophia menjadi saksi atas keteguhan perjuangan dan pertarungan kaderisasi antara idiologi sekuler di Turki dan gerakan dakwah Islam yang ada di bumi turki. Wallahu’alam

Penulis: Sofyan Siroj Abdul Wahab (QR Foundation)

Baca Juga

Implementasi  Wakaf  Produktif

  Oleh: Sofyan Siroj, LC. MM Anggota DPRD Provinsi Riau Undang-Undang No. 41 tahun 2004 …