Pelajaran dari Buya Hamka

Oleh : Wamdi Jihadi

“Bapak-bapak, sesepuh, dan Ulama-ulama yang sebaya dengan saya. Saya akui, bahwa saya memang populer, terkenal atau termashur di mana-mana. Sebab sejak masih muda saya sudah jadi pengarang, muballigh dan guru. Di hari tua berpidato di TVRI atau RRI. Tetapi Kepopuleran bukanlah menunjukkan bahwa saya yang lebih patut.”

Di awal tulisan ini saya kutipkan potongan pidato buya Hamka ketika beliau terpilih sebagai ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) pertama di tahun 1975. Pidato – saya membaca teks utuhnya – yang jauh dari tendensi kepentingan pribadi beliau. Bisa jadi karena beliau adalah salah satu di antara putra perjuangan lainnya yang merasakan pahitnya memperjuangkan kemerdekaan. Dan atau ini tentunya yang lebih dominan, beliau merupakan ulama yang keberadaannya untuk meneguhkan keberadaan umat manusia.

Pertama kali beliau hendak menerima amanah tersebut banyak sekali penentangan, baik dari kaum muda Islam, maupun koleganya. Mereka beranggapan bahwa buya Hamka telah mulai melunak terhadap amar makruf nahi mungkar dengan menerima permintaan Menteri Agama Mukti Ali yang menunjuknya sebagi ketua umum majlis tersebut.

“Kita tidak mengartikan amar makruf nahi mungkar itu sebagai oposisi. Tapi dengan sikap itu tidak berarti kita menjilat kepada pemerintah.” Demikian kali lain beliau memaknai ungkapan amar makruf nahi mungkar.

Dan itu terbukti, dengan amanah tersebut beliau menjadi corong bagi umat ini untuk menyampaikan berbagai hal kepada pemerintah, tanpa harus menjual harga diri ulama itu sendiri. “Di keliling dirinya (para ulama) telah ditempelkan kertas putih bertulisan: “Telah terjual”. Barang yang telah terjual tidak dapat dijual dua kali,” tegas beliau di pidato yang sama.

Beliau juga berpandangan, bahwa Komunis sebagai gerakan kala itu memang sudah tidak mendapatkan tempat, tapi Komunis dalam makna ideologi masih belum tercabut hingga ke akar-akarnya. Dan bila tidak di atasi dengan idiologi yang lebih kuat yaitu Islam yang merupakan agama mayoritas penduduk Indonesia, tidak mustahil suatu saat akar Komunisme tersebut kembali bertunas.

Pada sisi lain beliau melihat bahwa antara pemerintah masa itu dengan umat Islam – yang Islam juga sebenarnya agama mayoritas aparat – tidak terlalu bersahabat. Banyak agenda umat Islam dicurigai, di mata-matai. Maka dengan adanya Majlis Ulama Indonesia adalah kesempatan untuk sedikit bernafas lega.

Tetapi beliau juga membuktikan, begitu ada fatwa MUI yang bersebrangan dengan pemerintah dan pemerintah memintanya untuk mencabut larangan tidak bolehnya ikut merayakan Natal, beliau mengatakan, “Gemetar tangan saya waktu harus mencabutnya. Orang-orang tentu akan memandang saya ini syaithan. Para ulama di luar negeri tentu semua heran. Alangkah bobroknya saya ini, bukan?” Karena itu beliau lebih memilih mudur setelah mengemban amanah selama enam tahun.

Baca Juga

Idul Adha dan Momentum Kepahlawanan Sosial

Sosok manusia yang dikenang dan terukir dalam sejarah adalah mereka yang berani berkorban. Harta bahkan …