Belajar Setia Dari Sejarah

Anggota DPRD Provinsi Riau H. Sofyan Siroj Abdul Wahab, Lc, MM

Pekanbaru – Sebagaimana kita ketahui, 30 September dan 1 Oktober punya arti penting dalam konteks kebangsaan. 30 September dikenang sebagai hari peringatan gerakan 30 September 1965 atau disingkat G30S/PKI, berikutnya 1 Oktober merupakan Hari Kesaktian Pancasila.

Kedua hari tadi menyimpan kisah dan peristiwa kelam di masa lalu. Menggoreskan luka yang abadi lintas era. Hal terpenting dari momen bersejarah adalah unsur pendidikan, pelajaran sekaligus bekal guna menjalani kehidupan sekarang dan mendatang. Bak pepatah bilang “orang cerdas belajar dari sejarah”.

Jadi sebuah bentuk kecacatan berpikir jika ada perkataan bahwa yang berlalu biarlah tinggal di masa lalu. Terlebih G30S/PKI menuturkan kisah pengkhinatan paling berdarah. Itulah kenapa perbincangan tak boleh mati oleh waktu. Apalagi beberapa tahun belakangan muncul sejumlah kelompok menyuarakan narasi rekonsiliasi.

Walau maksudnya baik, sayangnya di balik itu ada upaya untuk memoles seakan PKI dan pengikutnya sebagai korban politik. Hal barusan jelas upaya nyata pembelokan dan penyesatan sejarah. Kita wajib bersikap adil terhadap keturunan dan pengikut PKI, tetapi gerakan, ajaran, simbol, pemikiran dan semua embel komunisme harus dilawan dan dilarang. Karena nyata berseberangan dengan Pancasila.

Peristiwa 1965 bukan hanya puncak pengkhianatan PKI. Disamping itu turut dipengaruhi banyak aspek waktu itu. Kegagalan negara mengelola ekonomi dan menjalankan agenda kesejahteraan rakyat, kekesalan rakyat melihat para menteri Kabinet Dwikora hidup berfoya-foya di tengah kesulitan rakyat dan kuatnya cengkaraman PKI hingga ke berbagai lini termasuk sosial dan budaya menambah eskalasi.

Saat itu perekonomian Indonesia nyaris ambruk. Harga BBM naik drastis diikuti melambungnya harga kebutuhan. Menurut Bank Indonesia (BI) dalam “Sejarah Moneter Periode 1959-1966”, laju inflasi teramat tinggi. Situasi semakin parah dari tahun ke tahun. Pemerintah juga mengalami defisit anggaran.

Doktrin ekonomi terpimpin yang berorientasi sentralisasi menguras potensi ekonomi Indonesia karena dipakai untuk membiayai proyek-proyek politik ambisius pemerintah. Wartawan senior Rosihan Anwar pernah menulis bahwa para menteri melarang pejabat memberi laporan situasi sebenarnya pada Presiden Soekarno.

Jadi laporan dipoles agar keadaan tampak baik-baik saja. Alasannya “Takut Bapak marah.” Emosi rakyat makin memuncak manakala kekuasaan seolah memelihara PKI ditambah tudingan ada pejabat sangat berpengaruh di lingkar kekuasaan jadi antek Peking sebab apa-apa condong ke China dan partai komunis di sana.

Riau pun tak luput dari pergolakan melawan PKI. Mengutip buku terbitan Pusjarah TNI 1999 berjudul “Komunisme di Indonesia Jilid IV: Pemberontakan G.30.S/ PKI Dan Penumpasannya (Tahun 1960-1965)”, seperti daerah lain CDB PKI untuk Riau tanggal 11 Agustus 1965 menerima instruksi untuk menyokong usaha perwira-perwira menentang Dewan Jenderal. Instruksi ini selanjutnya dibahas dengan petugas Biro Chusus PKI Riau. Merekapun berbagi tugas. Ada yang melakukan pendekatan politis dan ada juga mengatur gerakan militeristik.

Selanjutnya dibentuk pula Badan Kesatuan Gerakan Militer Riau. Akan tetapi pada tanggal 1 Oktober 1965, setelah mendengar dimulainya G30S/PKI di Jakarta melalui radio, tokoh PKI di Riau memutuskan menunda gerakan militer sambil menunggu instruksi lebih lanjut dari Kepala Biro Chusus PKI daerah Sumatera Barat. Sembari menyusun kembali personalia Dewan Revolusi dengan memasukkan unsur-unsur Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Kepolisian serta tokoh partai politik dan para pejabat daerah yang menurut perhitungan bersimpati kepada G30S/PKI.

Beruntung tokoh-tokoh CDB PKI Riau tak sempat menjalankan rencana dan keburu buronan. Sejumlah bangunan di Pekanbaru jadi saksi. Diantaranya bangunan pusat perbelanjaan modern pertama di Pekanbaru yakni Plaza Citra. Barangkali tak banyak tahu bahwa sebelum dirobohkan dan dibangun pusat perbelanjaan, Plaza Citra dulunya penjara untuk menahan warga diduga terlibat PKI. Begitujuga Kantor Sobsi Riau di Jalan Sulawesi (kini Jalan Haji Agus Salim) belakang Plaza Sukaramai atau Pasar Pusat, serta kantor logistik Polda Riau. Tokoh utama G30S/PKI Riau diadili secara Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) juga di Gedung Nasional (kini Gedung Menara Dang Merdu Bank Riau Kepri).

Belajar Setia

Sejarah G30S/PKI terkandung pelajaran berharga bahwa bukti kecintaan terhadap bangsa diukur dari seberapa peduli kita terhadap isu-isu bangsa dan kerakyatan. Peristiwa di masa lalu mengingatkan bahwa pengkhianat bangsa justru pihak yang berada di lingkar kekuasaan. Bahkan mengklaim diri paling Pancasilais dan tak segan-segan menuduh kelompok tak sejalan dengan mereka sebagai anti Pancasila, sebagaimana pentolan PKI DN Aidit yang menerbitkan buku berjudul “Membela Pantja Sila”.

Padahal realitanya PKI terang-terangan memusuhi Pancasila, menghalalkan segala cara termasuk membunuh dan membantai demi mencapai tujuan. Sejarah G30S/PKI juga mengajarkan bahwa oposisi terhadap kekuasaan bukan berarti tak cinta bangsa. Kalau saja dulu tak ada kelompok berani mengkritik dan menentang kekuasaan yang begitu mesra dengan PKI, para pengkhianat tentu bercokol lebih lama dan durinya menusuk lebih dalam ke tubuh bangsa.

Turunnya rakyat, pemuda dan mahasiswa ke jalan bersatu dengan slogan “Bubarkan PKI, Reetol Kabinet Dwikora dan Turunkan Harga!” bukti kepedulian. Meski konsekuensi berseberangan kekuasaan yang menyimpang sangat riskan. Tapi para pendahulu berani ambil resiko. Pembubaran dan pelarangan Partai Masyumi yang begitu anti PKI salah satu bukti betapa kuat pengaruh PKI di lingkar kekuasaan.

Dari pemaparan dapat disimpulkan bahwa begitu penting makna hari peringatan gerakan 30 September 1965 dan hari Kesaktian Pancasila. Iktibar agar generasi supaya tidak mengulangi kesalahan sama sekaligus meluruskan pola pikir bagaimana seharusnya membangun bangsa. Seperti perkataan seorang filsuf “Mereka yang tidak mengenal masa lalunya, akan dikutuk untuk mengulangi kesalahan di masa lalunya.” Sungguh suatu kesalahan besar bila ada yang bilang bahwa negara yang selalu menyimpan dendam dan melestarikan kebencian masa lalu tak akan pernah maju. Logika berpikir barusan sama sekali tak nyambung.

Negara maju kayak Jerman saja sampai saat ini masih trauma dan sangat sensitif dengan paham Nazi, membuat pemerintah begitu ketat mengawasi berkembang dan menguatnya kembali paham dimaksud.

Peristiwa G30S/PKI tidak hanya mengajarkan kita untuk mengantisipasi munculnya kembali para pengkhianat bangsa. Paling utama mewariskan betapa pentingnya nilai kesetiaan terhadap bangsa. Karena bentuk kecintaan kepada bangsa dilihat dari sejauhmana kita dapat mengawal dan mewujudkan nilai-nilai Pancasila serta membentengi dari pihak yang coba merongrongnya.

H. SOFYAN SIROJ ABDUL WAHAB, LC, MM. ANGGOTA DPRD PROVINSI RIAU

Baca Juga

Daftar di PKS, Abdul Wahid Siap Ajak Kader PKS Menjadi Wakilnya

Pekanbaru – Bursa Balon  Gubernur Riau semakin banyak dan beragam serta mewakili berbagai daerah yang ada …