DARURAT BENAHI SEPAKBOLA TANAH AIR

Pertandingan sepakbola Liga 1 pekan ke-11 2022-2023 di Stadion Kanjuruhan (1/10/2022) antara Arema FC vs Persebaya Surabaya menyisakan duka mendalam. Bagi bangsa, bagi sepakbola tanah air hingga internasional. Beberapa liga Eropa kayak Liga Spanyol mengheningkan cipta sebelum kick off. Mulanya laga derby berlangsung intens dengan jual-beli serangan. Sangat menarik ditonton. Namun setelah peluit akhir ditiup berakhir kemenangan untuk Persebaya Surabaya, situasi mencekam. Ratusan korban jiwa berjatuhan. Dikutip dari media massa, Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta dalam konferensi pers di Polresta Malang (2/10) berkata bahwa 127 orang meninggal, dua diantaranya anggota Polri. 34 orang meninggal dalam stadion, sedang 93 orang meninggal dunia di RS. Tragedi bermula turunnya beberapa orang suporter Arema ke lapangan paska pertandingan, mencari pemain dan official Arema. Motif mereka bertanya kenapa bisa kalah sembari mengkritik permainan. Saat itu, polisi berhasil mencegah supaya pemain dan official tim rival terhindar dari hal tak diinginkan serta mengawal masuk ke kamar ganti. Namun di waktu bersamaan, upaya Polisi menghalau penonton yang turun ke lapangan tak sesuai harapan. Gas air mata ditembakan Polisi tak hanya menyasar lapangan tapi juga tribun. Alhasil penonton berhamburan cari jalan keluar, menumpuk ke satu titik dan berdesak-desakan. Di sinilah insiden terjadi. Banyak sesak napas dan kekurangan oksigen. Keterangan Kapolda Jatim sama persis dengan testimoni salah seorang Aremania yang selamat.

Menko Polhukam Mahfud MD menyatakan peristiwa bukan kerusuhan atau bentrok antara suporter, sebab pendukung Persebaya ada larangan datang ke stadion. Meski begitu, tragedi memilukan tak seharusnya terjadi. Kehilangan satu nyawa terlalu banyak, apalagi ratusan melayang begitu saja. Ini aib sejarah olahraga Indonesia. Angka tersebut melebihi jumlah korban Tragedi Heysel 29 Mei 1985 saat laga Liga Champions. Kala itu, tembok stadion runtuh dan menyebabkan 39 orang meninggal dunia. Kembali ke dalam negeri, harus ada evaluasi total. Cukup ini terakhir. Ironisnya insiden Stadion Kanjuruhan bukan pertama di tahun 2022. Masih segar ingatan, dua orang suporter meninggal di Stadion GBLA Bandung (17/6/2022) saat pertandingan Persib Bandung versus Persebaya Surabaya pada penyisihan Grup C Piala Presiden 2022. Waktunya juga malam dan diduga jumlah penonton melebihi kapasitas. Membludaknya penonton di pintu masuk membuat dua korban jiwa sesak napas. Riau pun tak luput. Laga PSPS Riau versus PSMS Medan di Stadion Utama Riau (22/9/2022) kisruh. Ulah segelintir suporter PSPS tak terima kekalahan lalu bakar kembang api, mencopot dan bakar kursi tribun. Kami di Komisi V DPRD Provinsi Riau yang membidangi urusan kepemudaan dan olahraga memandang, kelakuan anarkis oknum mengaku suporter tadi merugikan nama PSPS dan Riau mengingat stadion dibangun dari APBD. Komite Disiplin PSSI sudah beri sanksi. Sudahlah bayar denda PSSI, Dispora Provinsi Riau juga meminta pertanggungjawaban ke pihak manajemen PSPS Riau. Sekarang PSPS terasing ke luar Riau.

Sistem

Sebenarnya sepakbola Indonesia sangat potensial. Menjamurnya talenta berbakat seantero nusantara ditambah tingginya antusiasme warga menonton. Fenomena tampak kasatmata sampai liga antar kampung. Boleh dibilang level fanatik suporter Indonesia tak berbeda dibanding pendukung sepakbola di luar negeri terutama Inggris. Perpaduan talenta dan minat penonton modal sangat berharga guna memajukan sepakbola nasional dan mendulang sukses di berbagai kancah dan kompetisi. Cuman belum serius membenahi cela. Peristiwa Stadion Kanjuruhan tuntutan darurat pengelolaan olahraga lebih baik dan profesional. Dimulai pengungkapan atas peristiwa. Namun bukan samata mencari “kambing hitam” dan menghukum pihak bertanggung jawab sesuai hukum berlaku. Lebih dari itu, jadikan itu presenden sekaligus momentum membangun optimisme kebangkitan olahraga tanah air. Apalagi beberapa waktu belakangan timnas sepakbola Indonesia tampil menjanjikan, ditambah persiapan sebagai tuan rumah piala dunia U-20 dan berbagai even internasional yang akan berlangsung di Indonesia. Kita berharap FIFA tak jatuhkan sanksi. Kalau terjadi, paling dirugikan regenerasi hingga ke daerah.

Insiden mengajarkan olahraga sangat ditentukan manajemen. Manajemen baik lahirkan even kompetitif dan dapat memicu atensi penonton. Kalau dikelola profesional, keuntungan materi ikut positif. Tentu bukan cuan tujuan utama. Itu bonus ketika ikhtiar sempurna. Jalan ke sana juga tak mudah. Penuh tantangan dan butuh kesabaran. Bukan mustahil kita meniru keberhasilan pengelolaan sepakbola Eropa. Jangan hiraukan pandangan sinis dan skeptis bilang kita tak akan mampu. Semua bisa asal komitmen. Toh manajemen liga Eropa bagus tak ujub-ujub satu malam. Kalau tingkah suporter tanah air dituduh sebagai faktor penghambat, fans sepakbola daratan Inggris kurang ganas apa? Kita kenal istilah Hooligan dan nama lain yang beringas dan suka rusuh juga. Tapi tata kelola dan ketatnya sistem di sana buat ketar-ketir yang tak disiplin dan tak sportif. Tidak adil hanya berharap kedewasaan suporter sementara mengenyampingkan aspek lain seperti pihak penyelenggara, aparat dan pihak terkait. Contoh soal tiket menonton di stadion. Masih didapati orang beli tiket tanpa sertakan kartu identitas. Artinya, tiket dijual tanpa nama. Bagi oknum yang nonton di stadion bukan lihat laga tapi demi motif lain atau bikin rusuh, jelas merasa aman identitasnya tak tercatat. Anonimitas sangat berbahaya. Karena dalam anonimitas orang bisa berbuat sesuka hati. Di sini saja sudah fatal. Begitu juga Riau, pembenahan penyelenggaraan stadion kategori utama mesti ditempuh. Manajemen stadion profesional tuntutan kekinian agar penonton aman dan nyaman. Ingat, kerusuhan tak libatkan semua suporter. Jumlah perusuh sebenarnya kecil dan dapat dikendalikan.

Berbeda di liga negara maju, pengawasan berlaku sejak membeli tiket. Jumlah penonton dan tiket diatur. Plus, CCTV dipasang di penjuru stadion berikut jumlah petugas keamanan proporsional dengan jumlah penonton. Balik ke insiden Stadion Kanjuruhan, menimbang laga panas, sebelum pertandingan aparat mengaku telah minta pertandingan dilaksanakan sore bukan malam dan jumlah penonton disesuaikan kapasitas stadion. Tapi menurut Panpel Arema FC sempat ajukan perubahan jam tanding dimajukan sore hari. Tapi oleh PT Liga Indonesia Baru (LIB) ditolak. Dari gambaran kelihatan koordinasi tak maksimal. Aparat juga tak luput dari sorotan. Penggunaan gas air mata dinilai pemicu timbul korban jiwa. Banyak yang bertanya, kenapa SOP pengamanan pertandingan tak sesuai dengan FIFA Stadium Saferty and Security Regulations, yang tidak memperkenankan petugas keamanan memakai gas air mata di dalam stadion. Terkait ini, perlu diapresiasi langkah Propam Polri memeriksa anggota yang bertindak di luar SOP. Salut juga ke Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa yang menindak aksi viral seorang prajurit menendang suporter di Stadion Kanjuruhan dan menyebut bentuk tindak pidana yang tak boleh dilakukan prajurit TNI.

Berangkat dari pemaparan, saatnya semua pihak mulai Pemerintah, federasi dan perhimpunan serta pihak aparat keamanan dan pihak terkait lain duduk satu meja. Perlu evaluasi sarana, prasarana, maupun regulasi dan tata kelola demi penyelenggaraan olahraga lebih baik. Ini tentang peradaban dan kepentingan bangsa. Kami yakin pengelolaan olahraga teristimewa sepakbola tanah air bisa setara negara maju. Asal pihak pengelolanya benar-benar paham dan punya passion terhadap dunia olahraga. Jangan jadikan federasi, asosiasi dan komite tempat berhimpun insan olahraga sebagai arena berpolitik praktis. Tempatkan mereka yang profesional, punya lisensi dan sudah diakui wawasan dan keahlian untuk memanajemen. Sehingga olahraga tanah air bangkit dan terhindar dari keterpurukan.

H. SOFYAN SIROJ ABDUL WAHAB, LC, MM. ANGGOTA KOMISI V DPRD PROVINSI RIAU

Baca Juga

MEWASPADAI KEBANGKRUTAN NASIONAL

Sebagaimana diketahui, tanggal 20 Mei sudah ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional (HKN). Kesempatan baik untuk …