Lumpur dan Harapan Nenek Marsinam

Di sebuah desa di Aceh Tamiang, hidup seorang nenek bernama Marsinam. Usianya sudah menginjak 78 tahun, dengan rambut putih dan mata yang penuh kerutan seperti peta perjalanan hidupnya. Setiap pagi, ia biasa duduk di teras rumah semi permanen sederhananya, menikmati angin sepoi. Tapi kini, teras itu sudah tinggal kenangan, tertimbun lumpur yang menumpuk seperti lapisan kesedihan.

Enam hari terendam, banjir bandang datang tanpa peringatan. Hujan deras mengguyur selama berjam-jam, membuat sungai meluap dan menerjang desa. Satu kabupaten Aceh Tamiang tenggelam saat itu, nenek Marsinam sedang sakit parah—demam dan pusing, sambil memegang dadanya yang sesak—bahkan ia sampai tidak sadarkan diri. Warga sekitarlah yang menolong, menggendongnya ke perahu kecil membawa menyeberang di tengah derasnya air. Mereka berhasil melintasi banjir, melewati pohon-pohon tumbang dan rumah-rumah yang hanyut, hingga tiba di Polsek Kejuruan Muda, dataran aman yang ada di atas.

Di sana, nenek Marsinam diselamatkan, tapi hatinya hancur mendengar kondisi rumahnya yang ditinggalkan. Lebih dari 40 hari berlalu sejak banjir surut, tapi rumah itu masih terendam lumpur, belum ada bantuan apa pun. Lumpur mengendap di lantai, dinding, dan bahkan merusak sampai di flavon.

Nenek Marsinam selamat, tapi rumahnya hampir roboh. Dinding kayu yang dulunya kokoh kini lapuk, bergeser dari posisinya setengah meter, didorong derasnya air banjir hingga miring seperti orang lelah. Sumur tua di belakang rumah tertutup lumpur tebal, membuatnya tak bisa lagi mengambil air bersih untuk minum atau mandi. Kamar mandi dan tempat cuci pakaian—satu-satunya tempat ia merawat diri sendiri—kini tak lagi ada, digantikan oleh genangan lumpur yang bau dan penuh lalat. Ia tak lagi bisa masak di dapur, tak lagi bisa mandi di kamar mandi, dan malam-malam ia tidur di tenda sederhana yang dibuat darurat di depan rumah, di bawah langit yang gelap tanpa perlindungan. Kalau hujan dan angin, dimasuki tempias.

Hati siapa yang tidak tersentuh melihat kondisi rumah nenek Marsinam? Di tengah kesedihan itu, ada harapan kecil yang masih menyala. Petugas desa sudah mencatat, untuk diusulkan mendapatkan bantuan dari pemerintah, meski prosesnya cukup panjang.

Alhamdulillah kisah nenek Marsinam mendapat perhatian para Relawan PKS untuk turun membantu membersihkan lumpur dan memperbaiki rumahnya. Para pemuda relawan PKS ini memberikan semangat, “Nenek, rumah ini mungkin tidak akan kembali seperti dulu, tapi akan kita buatkan nyaman lagi untuk ditempati” katanya sambil tersenyum. Nenek Marsinam mengangguk pelan, tangannya yang gemetar menyentuh bahu pemuda itu. “Terima kasih, anakku. Aku takkan menyerah,” bisiknya, suara yang lemah tapi penuh semangat. Di balik lumpur yang menumpuk, ada cerita tentang ketabahan seorang nenek yang tak pernah menyerah pada hidup, meski banjir menghancurkan segalanya.

Cerita ini mengingatkan kita bahwa di tengah bencana, ada kekuatan manusia yang tak tergoyahkan harapan yang tumbuh dari lumpur, seperti bunga liar di reruntuhan.

Baca Juga

Tak Sekedar Senam, Bipeka PKS Riau-PKS Pekanbaru Gelar Cek Kesehatan Lengkap, Wakil Wali Kota Pekanbaru Turun Langsung

Pekanbaru — Bidang Perempuan dan Keluarga (Bipeka) DPW PKS Riau bersama Bipeka DPD PKS Pekanbaru …