PEMBANGUNAN YANG MEMAJUKAN

H. Sofyan Siroj Abdul Wahab, LC, MM. Anggota Komisi V DPRD Provinsi Riau

Tren Citayem Fashion Week (CFW) berhasil menyita perhatian nasional hingga internasional. Sebagaimana pemberitaan media, CFW muncul usai sejumlah remaja yang kebanyakan berasal dari wilayah suburban seperti Depok, Bojong Gede, Tangerang dan Citayam kerap menjadikan kawasan Dukuh Atas Jakarta sebagai tempat “adu outfit”. Ini lalu jadi fenomena baru di tengah masyarakat Jakarta khususnya dan merambah ke sejumlah daerah. Riau pun tak luput. Baru-baru ini acara serupa digelar di Kota Bertuah. Bahkan Pemerintah Kota Pekanbaru beberapa waktu lalu melalui salah satu pejabat terasnya sempat usulkan rencana kegiatan serupa dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Republik Indonesia (RI). Adapun kegiatan diberi nama Kaca Mayang Fashion Street. Sesuai namanya, acara dimaksud digelar di Kaca Mayang. Momentum sangat pas berhubung Pemko sudah mendapatkan arahan dari Sekretariat Negara (Setneg) RI agar HUT RI dimeriahkan oleh berbagai acara. Namun info terakhir, setelah dirapatkan, Pj Walikota minta rencana acara dibatalkan.

Terlepas pro dan kontra; setuju atau tidak dengan CFW terutama menyorot sisi negatifnya, ada sisi terang untuk dibahas. Kendati begitu, bukan latah mengulas konsep acara. Tapi melihat dari perspektif luas. Kami selaku lembaga yang diamanahi mengawasi jalan pembangunan, ada substansi dibalik ekspresi para generasi tadi. Bagaimanapun tak lepas dari keberhasilan agenda pembangunan. Tanpa bermaksud mengampanyekan sosok tertentu, harus diakui acara fenomenal itu tak akan terjadi kalau tak didukung fasilitas, utama sekali keberadaan spot yang ikonik. CFW produk para remaja yang nongkrong di kawasan pertemuan Stasiun Commuter Line Sudirman, Stasiun MRT Dukuh Atas, dan Stasiun Kereta Bandara BNI City, Jakarta. Satu hal tak bisa luput, di area itu pembangunan fasilitas publik sangat terasa manfaatnya. Jika ditelusuri, fenomena CFW sebenarnya bukan barang baru. Tahun 1980-an hal sama pernah terjadi di jalan Melawai, Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Saking popularnya jalan Melawai sampai dibikin lagu berjudul Lintas Melawai yang dinyanyikan rocker Hari Moekti. Seiring waktu, lokasi popular tadi redup dan ditinggal. Beberapa tahun belakangan Pemda DKI giat berbenah dan merevitalisasi fasilitas publik. Menghadirkan ruang terbuka hijau yang bisa dinikmati secara nyaman dan lapang dengan dukungan desain modern. Trotoar lebar memberi kenyamanan bagi pejalan kaki. Dari sinilah pelintas jalan sering bikin video dan berswafoto. Istilah kekiniannya banyak lokasi yang instragamable.

Jangan lupakan pula mobilitas sebagai faktor utama mendukung CFW. Para generasi muda dan masyarakat begitu mudahnya berkumpul di ruang terbuka disebabkan akses menuju ke sana mudah dan murah. Kalau kita berkesempatan jajal, terasa perbedaan ketika menggunakan moda transportasi di Jakarta. Sistem transportasi terintegrasi memudahkan masyarakat. Mulai commuterline, MRT, Transjakarta hingga kereta bandara bisa menjangkau kawasan strategis. Transportasi efektif dan efisien aspek penting dalam agenda pembangunan. Selain membuat masyarakat lebih produktif, juga memberi ketentraman masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari berikut untuk refreshing atau healing. Terlebih ketika dihadapkan kepada tipikal masalah perkotaan semisal kemacetan yang bikin stres, moda transportasi efektif dan efisien merupakan solusi paling ampuh. Tak hanya sampai di situ, keberhasilan pembangunan sistem transportasi efektif dan efisien turut membuat roda perekonomian dari kawasan yang dilalui atau yang terhubung tumbuh lebih menjanjikan. Menilik dampak sosial, CFW juga menjadi sarana efektif bagi aspirasi warga. Di balik kehebohan, terungkap sisi lain. Para remaja yang datang ternyata banyak berasal dari kalangan kurang mampu. Banyak diantara mereka putus sekolah, direndahkan dan dihina karena penampilan mereka yang modal ekonomis bahkan tak punya media sosial untuk publikasi penampilan mereka ke publik. CFW tak hanya mengungkap kegetiran hidup, tapi juga turut memberi solusi. Seperti sejumlah remaja putus sekolah, diberi tawaran beasiswa untuk kembali mengeyam pendidikan.

Fasilitator

Berangkat dari pemaparan dapat disimpulkan betapa agenda pembangunan dapat men-trigger munculnya pertumbuhan, kemajuan dan “budaya baru” di tengah masyarakat. Jadi bukan acara CFW yang mesti ditiru, apalagi sampai Pemda turun tangan bikin acara. Semestinya ide dan gagasan pembangunan perlu direplikasi. Bukankah dalam konsep pembangunan Pemerintah hanya berperan sebagai fasilitator. Tugasnya menghadirkan pembangunan yang dapat dirasa manfaatnya bagi masyarakat. Ketika pembangunan berhasil, berbagai bentuk ekspresi akan lahir dengan sendirinya lewat inisiatif warga. Tulisan ini tak bermaksud memukul rata semua pembangunan khususnya di Riau tak sesuai kebutuhan. Namun ada catatan penting melihat realita di lapangan. Boleh dibilang, agenda pembangunan daerah belum sepenuhnya dibekali perencanaan matang dan terintegrasi. Orientasi proyek masih setengah hati. Untuk moda transportasi contohnya, penerapan baru sebatas penuhi kadar minimal. Padahal manfaat luar biasa. Begitujuga fasilitas publik lain. Jangankan memenuhi standar kenyamanan warga, untuk Standar Pelayanan Minimal (SPM) sektor utama pendidikan, kesehatan dan infrastruktur dasar masih kewalahan.

Hal ini kerap jadi sorotan intens DPRD Riau terutama kami di Komisi V. Paling mengemuka tak sedikit fasilitas di beberapa daerah di Provinsi Riau pembangunannya terbengkalai. Sementara duit APBD sudah terpakai. Oleh karena itu untuk tahun 2023, kami meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau memprioritaskan ini ketimbang ajukan program baru. Semisal di Kabupaten Siak pembangunan Puskemas mangkrak. Ada Puskesmas dibangun tahun 2013 dengan APBD Provinsi Riau. Mirisnya pembangunan terkendala perkara penatakelolaan aset. Disamping itu, masih di Siak, ada juga puskesmas dibangun Pemprov Riau tahun 2016 lalu yang pengerjaannya setengah jalan. Malah kabarnya Pemkab Siak yang melanjutkan pembangunan Puskesmas terbengkalai memakai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kabupaten. Keberadaan sejumlah sarana yang sudah dibangun tapi tak kunjung dimanfaatkan juga jadi perhatian. Banyak fasilitas dibangun jauh dari pemukiman warga. Ada pula dibangun tapi tak jelas Sumber Daya Manusia (SDM) pengelolanya.

Mengacu ke masalah barusan, pembangunan bukan ujub-ujub soal fisik semata. Pembangunan harus melibatkan sisi manusianya. Disamping membangun fisik juga harus dipikirkan bagaimana pembangunan mentalitas manusianya. Dengan begitu sarana yang sudah dibangun dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin. Kenapa agenda pembangunan di daerah lain seperti DKI bisa efektif? Jawabannya simpel, karena agenda pembangunan menjawab permasalahan. Artinya berangkat dari kebutuhan dan tuntutan, bukan proyek mercusuar dan jor-joran. Riau sangat mungkin mereplikasi setiap kemajuan daerah lain. Tinggal sekarang bagaimana caranya agar setiap program dapat direncanakan dengan baik. Tidak hanya melihat pencapaian kuantitas atau jumlah pembangunan, tapi efektivitas. Karena, mengutip perkataan Ibnu Khaldun dalam karyanya Mukaddimah, bahwa ketika indikator suksesnya sebuah pembangunan oleh negara dapat dilihat dari dampak terhadap kemajuan warga. Kalau pembangunan marak tapi ekonomi bangsa justru tertekan, itu tanda oritentasi pembangunan bukan untuk menjawab kebutuhan tapi demi kepentingan tertentu.

Baca Juga

PKS Riau Gelar Leadership Training “Kembara” 2022 di Kampar

Kampar – Bidang Kepanduan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Provinsi Riau mengadakan …