Suara Emak-Emak di Reses wakil Ketua DPRD Riau: Anak Yatim Piatu Miskin Tanpa Identitas Kesulitan Akses Sekolah

Pekanbaru — Di tengah suasana Reses Wakil Ketua DPRD Provinsi Riau H. Ahmad Tarmizi, LC, MA di Kelurahan Industri Tenayan (23/6/25) terungkap kisah pilu yang disampaikan oleh seorang warga saat sesi penyampaian aspirasi. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, emak-emak tersebut memohon bantuan kepada wakil rakyat atas kondisi seorang anak yatim piatu yang hidup dalam kemiskinan serta tidak memiliki dokumen kependudukan.

“Anak ini sudah yatim piatu, pak. Tidak punya keluarga lagi. Hidupnya sangat susah, dan yang lebih menyedihkan lagi, dia tidak punya, KK. Gimana mau sekolah kalau tidak ada identitas?” ujarnya dengan nada lirih namun penuh harapan.

Anak tersebut diketahui tinggal bersama orang yang juga dalam kondisi ekonomi pas-pasan. Karena tidak memiliki dokumen resmi, ia terganjal dalam mengakses layanan dasar, terutama pendidikan. Padahal, menurut si ibu, anak itu masih berusia belasan tahun dan seharusnya bisa menempuh pendidikan seperti anak seusianya.

Sontak saja, cerita ini langsung menyita perhatian para peserta reses. Banyak warga lain mulai angkat bicara, menyatakan bahwa masalah kepemilikan dokumen kependudukan bagi anak-anak kurang mampu atau yatim piatu masih menjadi kendala serius di lapangan.

H. Ahmad Tarmizi selaku Anggota DPRD PROV Riau yang hadir dalam acara tersebut langsung merespons aspirasi tersebut dengan untuk menindaklanjuti ke dinas terkait, seperti Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil serta Dinas Pendidikan.

“Kami akan koordinasikan, ini adalah tugas kami sebagai wakil rakyat untuk memastikan hak-hak dasar warga negara terpenuhi,” ujar Ketua DPW PKS Riau itu.

Warga pun berharap dengan adanya respons cepat dari pihak terkait, anak tersebut dapat segera mendapatkan dokumen kependudukan yang sah, sehingga bisa melanjutkan masa depannya melalui jalur pendidikan.
Cerita ini menjadi pengingat bahwa masih banyak anak bangsa yang tertinggal karena birokrasi yang rumit dan minimnya akses informasi. Jeritan emak-emak di sesi reses bukan hanya sekadar aspirasi biasa, tapi panggilan hati nurani untuk memperbaiki nasib mereka yang termarjinal.

Baca Juga

Hendry Munief: Tenun Songket Bisa Menjadi Bagian Diplomasi Ekonomi Bidang Budaya di Pasar Global

Palembang — Industri kerajinan tenun songket merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang memiliki nilai …