Habib Salim Segaf Al Jufri (HSS) Dan Ustadz Abdul Somad (UAS) Yang Ku Kenal

Pagi itu tak biasanya hati ini bergembira sekali, padahal belum membaca do’a “anti galau” (Allahumma inni audzubika minal hammi wal hazn..).

Berita yang sangat membahagiakan yakni bermunculan status dan berita hasil keputusan ijma’ ulama dan kaum muslimin mengusulkan dua nama yang dekat di hati sebagai Cawapres 2019 yang mewakili ummat Islam Indonesia. Habib Salim Segaf Al Jufri dan Ustadz Abdul Shomad.

Kedua nama ini selalu menjadi perhatian hati saya sebab masing-masing punya kesan tersendiri pertama kali mengenalnya. Hari itu saya benar-benar bahagia, bukan bahagia pribadi seperti ditraktir atau diberi tiket gratis atau diberi hadiah. Tapi kegembiraan bersama banyak orang di luar sana melebihi bahagia diri sendiri.

Cerdas, sederhana dan fenomenal

Sudah ramai orang menyebut-nyebut nama UAS tapi aku belum pernah tahu yang mana dan siapa UAS itu..

Belum tiga tahun aku mengenalnya seiring orang mulai banyak mengenalnya barulah aku melihat wajahnya di youtube.

Beberapa waktu sebelum melihat orangnya aku hanya mendengar suaranya saja melalui smartphone, suara yang lantang, tegas dan jelas berarti orangnya berperawakan besar dan perlente karena beliau da’i kondang.

Waah.. subhanallah, setelah kulihat ternyata penampilannya sangat sederhana dan perawakannya yang kecil tidak sepadan dengan suaranya yang kuduga. Tidak ada jas atau sorban mewah yang ia pakai ketika berceramah, baju putih kopiah hitam sorban selembar di bahu itu yang paling familiar di mata jamaahnya.

Sebuah tulisan teman dekat beliau pernah kubaca biografi singkat UAS,  ternyata aku satu almamater sekolah yang sama dengan da’i humoris ini.

Barulah aku teringat, dulu di awal masuk Madrasah Aliyah kepala sekolah kami memotivasi kami dan selalu mengatakan,

“Contohlah abang kalian Abdul Shomad, dia berhasil melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Orangnya pintar dan ulet belajar, kalau kalian kuliah besok carilah abang kalian itu..”.

Setelah duapuluh satu tahun barulah aku tahu bahwa ustadz yang punya bahasa sederhana dan mudah dipahami ummat ini adalah aku satu alumni dengan beliau. Lebih dekatnya lagi ternyata daerah kelahiranku juga sama dengan kabupaten kelahiran beliau. Pantas saja kadang dengar UAS berbahasa mengingatkanku dengan kawan-kawan kecilku bermain di kampung kelahiranku dulu.

UAS itu fenomenal sekali, kalau beliau bicara orang langsung mengerti dan tak perlu diulang-ulang. Barangkali disebabkan kosa katanya yang banyak dan bahannya yang banyak dalam ilmunya.

Semua kalangan bisa memahami bahasanya mulai dari anak-anak sampai orang tua, anak saya yang berumur 4 tahun saja suka sekali dengan UAS dia bisa membedakan saat yang UAS ceramah atau ustadz lain. Buktinya ketika UAS bercerita lucu anak saya ikut tertawa berarti bahasanya mampu dipahami oleh balita. Hihihi…

Satu kunci yang harus kupahami adalah jika ada tokoh yang fenomenal dan punya potensi untuk memimpin, orang tersebut harus bisa diterima disemua segmen.

Bahasanya bukan cuma untuk kaum intelek saja, tapi kehebatan pemikiran dan konsep yang ia miliki bisa dipahami dengan ringan dan mudah untuk orang yang berpendidikan rendah atau masyarakat yang “nggak makan” bangku sekolah itu bahasa kampung kami. Namun jika ada orang yang mengatakan dirinya hebat dalam bicara dan orasi tapi hanya tersekat pada kaum pintar dan elit saja ini belumlah cukup syarat sebagai pemimpin masa depan. Nabi besar Muhammad Saw sudah mencontohkan ini sejak 14 abad lalu.

Lalu UAS dicalonkan kaum muslimin melalui ijma’ ulama sebagai wapres tahun 2019 sangat tepat sekali. Beliau seorang da’i yang juga mengerti mekanisme negara dan pemerintah, bukan cuma ngerti kitab-kitab berbahasa Arab saja. Kalau tak percaya silakan bertanya tentang persoalan negeri ini ke beliau. Akan selalu ada jawabannya yang bersumber dari mata air yang tak akan kering yakni dari ratusan hadits yang dihafalnya.

Barakallahufiikum ..untuk guru kami, ulama kami dan senior kami.

Ummat merindukan nasehat dan bimbingan dari lisanmu di penghujung zaman ini.

Wajahnya yang dirindu membuat hati selalu ingin menangis

Entah kenapa jika aku menatap wajahnya baik langsung atau hanya dari gambarnya saja hatiku haru selalu mengundang untuk menitiskan air mata.

Ya Allah..menuliskan ini saja tak kuat rasanya harus ada yang meluncur butiran bening dari mata ini yang penuh maksiat. Pasti beliau punya kekuatan chemistry dan nasab yang suci.

Beda UAS beda pula ulama yang satu ini. Jika UAS aku terkesannya dengan kefenomenalannya di tengah ummat yang dahsyat, tapi ustadz yang ini mampu menggetarkan hati dan tertunduk malu dan haru jika mendengar nasehatnya.

Aku mengenalnya di awal tahun 2000, melalui salah satu majalah terkenal di era itu. Namanya Salim Segaf Al Jufri, karena dia adalah ulama dan nasab yang istimewa yakni keturunan Rasulullah SAW maka panggilan habib adalah cara untuk memuliakannya. Waktu aku membaca namanya begitu terkesan sebab mudah sekali diucapkan dan indah didengar.

Aku belum kenal siapa dia waktu itu kecuali namanya yang bagus dan tawadhu. Ternyata dia orang hebat yang langka di negeri ini. Kalau doktor banyak sudah di negeri ini, atau hanya jabatan menteri atau kedubes juga biasa bagi sebagian orang. Tapi hafal Al Qur’an mutqin sejak usia enam belas tahun, ini luar biasa dan jarang dimiliki oleh pemuda umumnya di negara Indoensia tercinta ini. Aku bukan orang yang memfigurkannya tapi semua alasan itu juga sama yang dirasakan semua orang berarti beliau layak jadi contoh yang baik untuk orang banyak.

Darah keturunan Nabi Saw yang mengalir itu menjadikan ia mulia dan dimuliakan, sebab baginya doa dan keselamatan setiap kali orang membacakan shalawat untuk Nabi Saw. Wa alaa alihi wa ashabihi.. dan keselamatan untuk keluarga Nabi.

Habib Salim saat ceramah bagiku bukan kalimat lucu yang ku tunggu dari kalimat demi kalimat yang keluar dari lisan “ahlullah” (keluarga Allah) ini. Tapi bagaikan air sejuk meluncur dari teko mengisi gelas-gelas hati yang kering, lalu menjadi energi hati yang mengalir dalam jasad membawanya dalam amal-amal nyata, menggerakkan lisan dan tubuh ini menjadi pelaku dakwah sejati di lautan ummat yang tak bertepi.

Jika ia bicara tanpa melihat wajahnyapun aku sudah merasa haru dan bawaannya syahdu. Bukan cuma ingat akhirat tapi ada aliran listrik yang menyengat untuk berdakwah ke luar rumah. Itulah keistimewaan dari pribadi Al Qur’an dan nasab mulia yang melekat dalam dirinya.

Sebagai pimpinan tertinggi partai beliau tidak menampakkan piawai dalam politik, tapi justeru banyak orang yang “tertipu” dengan ketawadhuannya. Orang mengira kesederhanaan beliau menggambarkan ketidakpakarannya dalam dunia politik dan strategi.

Bagiku, bashirahnya (mata hati) yang sudah terbiasa dengan Al Qur’an dan jaminan syafaat dari keturunan baginda Nabi Saw lebih dari sekedar strategi politik dan orasi belaka. Manusia jika sudah menjadi “ahlullah” apakah masih dikatakan lemah kapasitas politiknya? Pandangannya adalah kebaikan, larangannya berarti kemudharatan atau rahasia yang tak diketahui orang biasa seperti aku.

Hari ini beliau salah satu ulama dari kalangan habaib yang dicalonkan maju sebagai Cawapres di tahun 2019 mendatang, bukan hal yang mustahil keluarga Nabi Muhammad Saw yang ada di zaman ini memimpin negeri ini dengan keshalehahnnya. Ingatlah, tidak akan ada orang yang dirugikan secara pribadi kecuali ia bagian kelompok para pembenci agama ini.

Ya Habib..Ya sayyid, semoga Allah menjadikan jasad dan ruhmu menerangi Islam ini di penghujung zaman ini, dalam ruh pergerakan Islam dalam kesatuan dakwah Islam.

Allahumma shalli a’laa Muhammad wa alaa alihi Muhammad..

setiyati

Baca Juga

Syahrul Aidi dan Perjuangan Mengatasi Abrasi di Sungai Indragiri

INHU – Legislator Syahrul Aidi Maazat berdiri di tepi Batang Indragiri. Di atas tanah hitam …