Melestarikan Warisan Sumpah Pemuda

H. Sofyan Siroj Abdul Wahab,Lc, MM Anggota DPRD Provinsi Riau.

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Kalimat di atas tak asing lagi bagi kita. Sedikit mengulas sejarah, mengutip buku berjudul Peranan Pemuda: Dari Sumpah Pemuda sampai Proklamasi (1989) karya Sagimun Mulus Dumadi, pernyataan pemuda di atas tercetus dalam Kongres Pemuda II yang diadakan selama dua hari tertanggal 27 dan 28 Oktober 1928 di Batavia atau kini Jakarta. Tujuan digelar Kongres Pemuda II antara lain: melahirkan cita-cita semua perkumpulan pemuda Indonesia, membicarakan beberapa masalah pergerakan pemuda Indonesia; serta memperkuat kesadaran kebangsaan dan memperteguh persatuan Indonesia. Kendati ada polemik sejarah bahwa rapat pemuda waktu itu hanya berupa Poetoesan Congres dan sejak awal tak pernah ada kata sumpah sebab para pemuda tidak melakukan sumpah, namun tidak menghalangi kita mengambil pelajaran berharga. Sekedar informasi, polemik didasarkan hasil kajian Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan (Unimed) Dr. Phil Ichwan Azhari yang menyebut sejarah Sumpah Pemuda ternyata tanpa didukung dokumen dan bukti otentik. Sisi menariknya, berdasarkan catatan dan dokumen sejarah belakangan diketahui Sumpah Pemuda lebih kepada hasil rekontruksi pendahulu bangsa didorong kebutuhan situasi dan kondisi saat itu. “Poetoesan Congres” pun diubah jadi “Sumpah Pemuda”. Momennya pada 28 Oktober 1954, saat Presiden Soekarno dan Muhammad Yamin (sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) membuka Kongres Bahasa Indonesia kedua di Medan. Soekarno dan M. Yamin ditantang membangun narasi pemersatu bangsa, yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda.

Terlepas dari kontroversi dan perbedaan pendapat, ijtihad para pendahulu bangsa sangat signifikan bagi perjuangan kemerdekaan. Ironi dengan keadaan sekarang, unsur dan simbol kebangsaan justru dipakai sebagai tameng guna melindungi kepentingan kelompok sendiri dan alat menyerang kelompok dianggap berseberangan atau tidak sependapat. Pancasila bukannya untuk memperkuat kesatuan, tapi diklaim seakan milik kelompok tertentu saja. Mirisnya, yang paling kencang teriak paling Pancasilais dan paling NKRI justru sering gagal paham dan abai terhadap penegakan nilai-nilai Pancasila. Hal-hal semacam tadi menyebabkan bangsa kita beberapa tahun begitu rapuh secara sosial dan terancam perpecahan. Tuduhan intoleran dan radikal begitu mudah dilontarkan. Pihak yang berkata benar disudutkan, sementara yang pikiran dan perbuatannya terang-terangan bertentangan dengan falsafah bangsa malah dipuja dan dibela. Sungguh preseden sangat tidak baik. Bukan saja bagi demokrasi, tapi paling utama merongrong nilai-nilai dasar yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu. Berkaca kepada keadaan dan tantangan yang dihadapi, justru membuat peran pemuda dinanti. Layaknya pemuda dulu lahirkan narasi memperkuat dan menyelamatkan bangsa. Misi mengulangi sejarah tersebut hanya bisa tercapai manakala pemuda kembali ke khittahnya.

Manifestasi

Sumpah Pemuda merupakan manifestasi kesungguhan niat dan kebulatan tekad para pemuda dahulu terhadap tanah air. Narasi dan gagasan serupa dibutuhkan bangsa untuk menghadapi tantangan sekarang dan masa mendatang. Meski peristiwa Sumpah Pemuda tinggal sejarah, esensinya perlu dilestarikan sepanjang masa. Namun Sumpah Pemuda bukanlah kunci. Narasi menjadi tiada berarti tanpa manusianya. Sehebat apapun gagasan hanya akan berjaya apabila memenuhi azas utama: pertama, keyakinan kuat terhadap gagasan yang didukung. Kedua, keikhlasan dalam mendukung dan menegakkannya. Ketiga, semangat yang senantiasa membara bersamanya, serta keempat, sedia berkorban dan berusaha untuk merealisasikannya. Dalam konteks agama sebagai sila pertama Pancasila, keempat hal disebut tadi sejalan dengan prinsip ajaran Islam yakni keimanan, keikhlasan, semangat dan amal. Dalam kisah sejarah yang termaktub mulai dari kitab suci dan literatur umum, empat hal itu pula karakter melekat ke diri pemuda. Itulah kenapa aktor utama yang dicatat tinta emas dalam berbagai peristiwa penting dalam sejarah dunia adalah pemuda. Karena sifat idealis, teguh, komit dan konsistensi, berbagai pergolakan dan perubahan dilakukan oleh mereka direntang usia tersebut.

Kaum muda identik dengan jiwa bersemangat dan energik serta kekuatan raga. Di fase ini banyak potensi melakukan perubahan dan perbaikan. Masa muda merepresentasikan sesuatu yang baru, menantang adrenalin, kreatif dan inovatif serta berpikir kritis. Maka sangat disayangkan kalau lengah dan malas menempa diri. Selain berpikir kritis, aspek lain dianggap perlu yaitu integritas. Karena di masa inilah manusia menghasilkan konsensus dari pergulatan kehidupan: benar atau salah; baik atau buruk. Ketika seseorang di masa muda terbiasa lakukan hal baik, baik pula di masa tuanya, begitu sebaliknya. Wajar kenapa Umar bin Khattab RA pernah berucap: Barangsiapa ingin menggenggam nasib suatu bangsa, maka genggamlah para pemudanya. Ungkapan amat sederhana tetapi punya substansi luar biasa. Kalau mau merusak bangsa, rusaklah pemudanya. Kalau bangsa ingin baik maka pemudanya harus baik pula. Dalam hadist juga dinyatakan lima hal paling lama diaudit di hari kiamat adalah tentang masa muda untuk apa dihabiskan. Pemuda baik dan taat juga masuk 7 golongan manusia yang dijaga Allah SWT kelak (HR. al-Bukhari). Ketaatan dimaksud bukan saja berupa ritual ibadah. Menegakan kebenaran, memerangi kezaliman dan kebathilan, ber-amar maruf nahi mungkar, aktif dalam agenda perbaikan serta berkontribusi bagi kepentingan bangsa, juga bentuk ibadah tertinggi. Inilah wujud kesalehan sosial. Seseorang yang baik agamanya akan memunculkan sikap peduli dan peka terhadap lingkungan. Bukan abai dan cuek menyaksikan kezaliman, kesewenangan, ketidakadilan dan penyimpangan. Adapun tingkatan menyikapinya, paling tertinggi dengan aksi nyata lalu level lebih bawah mengingatkan secara lisan hingga paling lemah berazam untuk tidak ikut-ikutan atau membenarkan perbuatan keliru. Kembali ke peristiwa Sumpah Pemuda, para pemuda dahulu mengambil level tertinggi: berupa tindakan dan memerangi penjajahan dan kezaliman. Walaupun tantangan masa perjuangan tak sama dengan dihadapi sekarang dan masa mendatang, secara substantif terkandung makna sama.

H. SOFYAN SIROJ ABDUL WAHAB, LC, MM. ANGGOTA DPRD PROVINSI RIAU

Baca Juga

“BARANG MEWAH” BERNAMA KULIAH

Kenaikan biaya kuliah menyita perhatian. Gelombang protes mahasiswa mewarnai berbagai perguruan tinggi. Sejumlah pihak menuding …