MENJADI GENERASI PEMBEDA

Selain bulan penuh kebaikan dan keberkahan, Ramadhan bulan diturunkannya Al-Quran. Peristiwa ini kita kenal Nuzululqur’an. Di tanah air, hari tersebut bernilai istimewa. Peringatannya sudah lama mentradisi. Terlepas silang pendapat mengenai kapan waktu pastinya, esensi Nuzululqur’an lebih urgen untuk dibentangkan. Sama halnya Ramadhan, Al-Quran rahmat bagi alam semesta. Terbuka untuk dikaji dan diambil manfaat oleh umat manusia. Mulai sejarah dan kisah yang mendasari turunnya Al-Quran serta sajian ayat tentang alam semesta. Semua membuka cakrawala berpikir. Surah al-Alaq sebagai wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW merupakan motivasi sekaligus tantangan. Supaya manusia membaca (Iqra’). Munculnya perintah Iqra’ begitu menyentak. Terlebih kala itu masyarakat di jazirah Arab umumnya buta huruf. Kehidupan juga jauh dari standar beradab (jahiliyah). Kebenaran hal langka. Fenomena serupa di belahan dunia lain. Di Eropa kebenaran mutlak milik gereja yang berkolaborasi dengan kaisar dan raja. Kalangan awam begitu berhati-hati membaca. Ilmuwan yang pemikiran tak sejalan siap-siap menanggung resiko. Taruhannya nyawa. Turunnya Al-Quran membawa perubahan. Peradaban Islam kemudian memacu perkembangan ilmu pengetahuan. Ilmu dan kebenaran yang semula didominasi kalangan tertentu, dapat dikaji oleh siapa saja. Tentu sudah banyak pihak coba mencari kekurangan dan kelemahan Al-Quran. Ujungnya berbalik menyanjung, membela dan mengikuti ajaran Islam.

Al-Quran bukan semata sumber bacaan. Tetapi pedoman. Setiap pemaparan mengandung hikmah dan pelajaran. Itulah kenapa separoh muatan Alquran mengulas tentang sejarah. Tentang kehidupan penguasa dan umat masa lalu, teknologi dan peradaban yang mereka miliki serta penyimpangan yang telah mereka lakukan. Tujuannya supaya manusia yang hidup di masa kini dan mendatang dapat mengambil pelajaran. Tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan oleh kaum terdahulu. Ironisnya, bukannya ambil pelajaran setiap zaman justru pengulangan. Sampai sekarang dan didapati di negeri kita. Simak saja maraknya pemberitaan dimana orang berada dan berkuasa berhadapan dengan hukum mendapat perlakuan berbeda dibanding orang lemah. Begitujuga sekelompok manusia yang memusuhi kebenaran dan berbuat kezaliman justru diagungkan, sementara yang menegakan kebenaran malah dianggap musuh. Semua sudah disinggung secara gamblang dalam Al-Quran. “Dan sungguh telah kami mudahkah Al-Quran untuk  menjadi pelajaran bagi semua manusia, maka adakah di antara mereka yang mau mengambil pelajaran…” (Al Qamar; 17).

Pembeda

Semua orang boleh membaca Al-Quran. Termasuk kalangan luar Islam. Al-Quran tidak mengenal privilege. Terkhusus muslim, titel keagamaan yang melekat pada diri seseorang tak menjamin dia mampu mengamalkan yang tertuang di Al-Quran. Di sinilah nilai unik ajaran Islam. Tidak ada perlakuan special. Memandang jabatan, kasta, golongan, ras dan primordial lainnya. Kesalehan seseorang bukan dilihat dari prediket. Kaum miskin dan dhuafa, orang golongan lemah dan tak punya kuasa, dihadapan Allah SWT jauh lebih mulia ketika mereka berupaya sekuat tenaga merefleksikan Al-Quran ke kehidupan sehari-hari. Miris menengok kondisi kekinian. Tersaji dihadapan kita pemandangan dimana mengaku ulama tapi berdiri bersama penguasa dan pelaku kezaliman. Ada pejabat di lembaga agama negara mengaku terganggu mendengar kalimat zikir. Hal barusan contoh nyata Al-Quran tidak membekas. Padahal Al-Quran menghendaki umat Islam menjadi umat pembeda (al-furqan). Kata al-furqan berasal dari kata faraqa-yafriqu-farqan. Artinya al-fashl (memisahkan, membedakan). Lebih lengkapnya memisahkan antara perkara haq dan bathil. Al-Quran sudah teramat gamblang memisahkan segala sesuatu yang benar dan salah; keadilan dan kezaliman; halal dan haram; baik dan buruk; benar dan salah; petunjuk dan kesesatan. Sesuatu yang benar tidak boleh dicampuri yang salah, demikian pula sesuatu yang halal tidak boleh dicampuraduk yang haram. Umat Islam yang mampu menjaga tegaknya prinsip Al-furqan secara eksplisit turut menjaga kesempurnaan Al-Quran sebagai hudan (petunjuk). Namun ketika prinsip tadi diabaikan, jangan harap keberkahan akan datang. Al-furqan tidak bisa dikompromikan. Ibarat rambu lalu lintas yang memandu kapan pengendara waspada (lampu kuning), kapan harus jalan (lampu hijau) dan kapan pula pengendara wajib berhenti atau mengerem (lampu merah). Panduan ini harus jelas dan tidak remang-remang. Kalau pengendara bertindak sesukanya dipastikan lalu lintas kacau balau dan pengendara bisa celaka.

Berangkat dari pemaparan, peringatan Nuzululqur’ani momen refleksi dan evaluasi. Sudah sejauhmana kita tadabur Al-Quran dan berusaha mengejawantahkan. Walau saat menerapkan masih ada cela dan kekurangan, itu dapat dimaklumi. Sebab kita manusia bukan malaikat. Allah SWT hanya ingin menyaksikan kesungguhan dan komitmen hambanya. Kembali ke ayat pertama yakni Iqra’, inilah kata kunci memisahkan antara era kegelapan dan kebodohan (jahiliyah) dengan era cahaya kebenaran dan pengetahuan. Kenapa kita menyaksikan begitu banyak paradoks di masa sekarang, barangkali karena kita semakin jauh dari Al-Quran. Barangkali kita kurang sering membacanya. Atau rutin membaca hingga berlomba-lomba menghafalkan tapi tidak diimplementasikan. Terakhir, menjadi pribadi Al-furqan tidak sebatas mengendalikan diri sendiri. Tapi tugas lebih besar menanti. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah“. (Ali Imron: 110). “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana“. (At-Taubah: 71). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, ayat tadi menerangkan bahwa umat Islam disebut terbaik manakala memberi manfaat kebaikan kepada lingkungan, saling menasehati dan peduli ke sesama dan bersama-sama mempersempit ruang gerak kemungkaran. 

Dr. (H.C.) H. SOFYAN SIROJ ABDUL WAHAB, LC, MM.  
ANGGOTA DPRD PROVINSI RIAU

Baca Juga

KEMITRAAN KUNCI KEMAJUAN

Usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menempati posisi pertama jenis pekerjaan yang menyumbang banyak tenaga …