Budaya Sarana Memajukan Bangsa

H. Sofyan Siroj Abdul Wahab, Lc, MM

Pekanbaru – Awal Januari (10/1/2023), Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar menerima kunjungan Pengurus Besar Majelis Adat Melayu Indonesia (MABMI). Pertemuan dalam rangka silahturahmi sekaligus penyampaian agenda musyawarah besar PB MABMI yang bertempat di Riau. Sekedar informasi, MABMI lembaga sosiokultural tempat berhimpun masyarakat Melayu Indonesia yang dibentuk sejak tahun 1970an. Mengutip situs resminya, tujuan (matlamat) MABMI: menjaga, memfungsikan, mengembangkan adat dan kebudayaan Melayu. Visi menjadikan masyarakat Melayu di seluruh dunia baik masa kini maupun masa depan dan berdasarkan sejarah masa lalu, menjadi umat bertakwa, bertamadun dan rahmatan lil’alamin berdasarkan bimbingan Allah SWT. Perihal misi, disamping mendirikan kepengurusan mulai pusat hingga daerah, juga berkerjasama dengan Pemerintah dan lembaga-lembaga formal dan nonformal Melayu di seluruh Dunia Melayu; Memberi masukan kepada masyarakat Melayu mengenai polarisasi tamadun dalam konteks globalisasi di masa kini dan mendatang; Meneliti dan mendokumentasikan unsur budaya Melayu, baik dalam bentuk gagasan, kegiatan dan artefak kebudayaan; Menerbitkan informasi mengenai adat dan kebudayaan Melayu cetak maupun virtual; Berperan aktif meningkatkan kesejahteraan masyarakat Melayu mencakup: bahasa Melayu, ekonomi, teknologi, pendidikan, organisasi dan kesenian Melayu. 

Kami sangat mengapresiasi agenda antara Kepala Daerah bersama lembaga adat. Besar harapan kami, MABMI dan lembaga adat lain di Riau mengambil peran strategis. Namun aksi hendaknya tak sebatas organisasi/perkumpulan. Selain tempat bermusyawarah dan bertukar pikiran, lembaga adat masyarakat mesti dapat mendorong dan menggagas ide supaya potensi adat dan budaya dapat dikerahkan untuk memajukan daerah dan bangsa. Di sisi lain, Pemda juga diharapkan dapat bersinergi. Sehingga terbentuk kolaborasi. Karena jalannya roda pembangunan tanpa melibatkan modal sosial seperti unsur budaya tak akan mencapai sasaran. Sebanyak apapun anggaran dialokasikan untuk membangun akan sia-sia. Sebuah keniscayaan pembangunan butuh pemahaman akan budaya. Pembangunan fisik memang menghasilkan bangunan baru, megah dan tinggi menjulang. Tapi tidak menjamin bermanfaat. Bisa dilihat di daerah-daerah. Tak sedikit gedung layanan publik dibangun bagus dan megah, tapi ujungnya terlantar. Penyebab utama, pembangunan dilakukan mengabaikan unsur manusianya. Keberhasilan komunikasi pembangunan ketika Pemerintah berhasil mengenali bagaimana karakter masyarakat dan menggunakannya sebagai pendekatan. Bicara karakter tak bisa dilepaskan dari budaya.

Paripurna

Sayang perhatian terhadap budaya cenderung nilai komoditas dan ekonomi saja. Di pihak Pemerintah mulai pusat hingga daerah, keunikan budaya dilirik sebagai magnit menarik kunjungan wisatawan. Sudut pandang tadi tak sepenuhnya salah. Seiring maraknya kunjungan dan wisatawan belajar mengenal warisan bangsa plus mendatangkan nilai ekonomi bagi warga setempat, semoga upaya untuk melestarikan lebih giat lagi. Namun alangkah baiknya, kerangka berpikir atas budaya bukan semata “menjual”, tetapi memberdayakan demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Ironisnya pengambil kebijakan kadang terjebak pola pikir keliru. Pembangunan diidentikkan dengan modernitas sedang budaya dianggap tradisional. Akibatnya selalu dibenturkan atau dikotomi. Seakan tak ada titik temu. Padahal modernisasi mustahil terwujud tanpa nilai tradisional. Modernisasi mengenyampingkan budaya hanya menghantarkan bangsa ke kehancuran. Contoh dalam pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA). Pertanian dan perkebunan hilang arah. Negara katanya agraris tapi jor-joran impor pangan. Kebun sawit luas tapi harga minyak goreng mahal dan sempat langka. Makin miris, masih banyak ditemukan kemiskinan ekstrim dan angka stunting tinggi. Sadar atau tidak, bangsa kita mengalami pergeseran dari semula kesohor budaya agraris yang harmonis dengan lingkungan dan dijiwai nilai gotong-royong ke budaya industri yang condong materialistis dan individualistis.

Menelantarkan budaya agraris sebuah kerugian terbesar. Secara petani mata pencaharian mayoritas penduduk. Budaya agraris menawarkan keuntungan jangka panjang dan kemandirian yang kuat bagi kehidupan rakyat. Sementara budaya industri menaruh ketergantungan besar dari permintaan dunia luar. Di masa krisis, semisal menghadapi embargo, industri tak berdaya. Sebaliknya pertanian mampu bertahan. Disamping dasar kehidupan bangsa Indonesia paling hakiki, budaya agraris punya nilai yang dibutuhkan. Salah satu nilai warisan turun-temurun mendalilkan keseimbangan lingkungan sebagai dasar kehidupan dan mencapai kebahagiaan. Kalangan petani tradisional sejak dahulu memperlakukan lahan secara mulia. Berbagai bentuk upacara keagamaan dilakukan secara individu dan berkelompok selama masa bertanam hingga panen. Hal tersebut bentuk kesadaran mereka bahwa tanaman dan lahan merupakan karunia Tuhan. Kelekatan dengan Tuhan membuat para petani menetapkan berbagai cara dan pendekatan mengolah lahan. Sehingga tidak serampangan. Budaya agraris juga didapati di bumi lancang kuning. Masyarakat adat mengelola hutan penuh kearifan. Inilah yang mendasari pengakuan negara. Teruntuk di daerah diantaranya Perda Provinsi Riau nomor 10/2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya.

Selain agraris, maritim juga alami kondisi serupa. Presiden Joko Widodo dalam sambutan pelantikan periode pertama di depan anggota MPR berpidato lantang “Kita harus bekerja dengan sekeras-kerasnya untuk mengembalikan Indonesia sebagai negara maritim.” Presiden melanjutkan, “Samudra, laut, selat, dan teluk adalah masa depan peradaban kita. Kita telah terlalu lama memunggungi laut, memunggungi samudra, memunggungi selat dan teluk. Kini saatnya kita mengembalikan semuanya sehingga Jalesveva Jayamahe, di laut justru kita jaya, sebagai semboyan nenek moyang kita pada masa lalu, bisa kembali membahana.” Terlepas apa yang disampaikan dalam pidato tak sejalan dengan kebijakan belakangan, setidaknya yang dikemukakan Presiden Joko Widodo bentuk pengakuan akan budaya kemaritiman dan kelautan Indonesia. Terkhusus Riau, arti maritim makin istimewa. Budaya maritim berkaitkelindan dengan sejarah Kerajaan Siak yang dikenal sebagai penakluk lautan. Banyak cerita kejayaan diabadikan ke dalam lagu diantaranya termahsyur berjudul Laksamana Raja di Laut. Berkaca dari masa lampau, kita pantas malu melihat kondisi sekarang. Jangankan mau kembali merajai selat malaka, nelayan lokal saja menderita. Budaya agraris dan maritim satu dari sekian banyak permata budaya tak ternilai harganya yang dilupakan.

Revitalisasi

Berangkat dari pemaparan di atas, perlu merevitalisasi budaya. Adapun upaya mencakup semua lini. Keuntungannya dapat dirasakan sekarang dan masa depan. Hal sederhana saja misalnya: kearifan lokal perobatan. Negeri kita bukan hanya dianugerahi keberagaman budaya, suku, agama, dan bahasa. Melainkan juga kearifan dan pengetahuan kesehatan lokal, di antaranya sistem perobatan. Tradisi kepercayaan akan obat-obatan dimiliki hampir setiap suku di Indonesia. Kesehatan juga bagian penting dalam kehidupan masyarakat Melayu. Di Pulau Penyengat Kepulauan Riau yang punya ikatan sejarah dengan Provinsi Riau, terdapat situs gedung tabib. Di tempat itu ditemukan beberapa manuskrip seperti naskah ilmu tabib dan obat-obatan Melayu. Perkara budaya leluhur perobatan nusantara di masa lalu menarik banyak atensi dan kajian. Sudah banyak pula memakai pengetahuan tradisional itu ke dalam dunia farmasi modern untuk membuat berbagai obat untuk menyembuhkan penyakit. Contoh produk kosmetik Martha Tilaar yang berkolaborasi bersama pakar tradisional menggali khazanah kesehatan ilmu leluhur masyarakat Jawa. Hal seperti inilah yang mesti ditempuh. Dengan begitu kekayaan budaya Melayu dapat terus lestari.

Terakhir paling pokok dalam membentuk insan bangsa. Terkait pendidikan, budaya dapat membantu pendidikan formal sekolah yang dinilai masih jauh dari optimal membentuk perkembangan siswa. Kini anak-anak dihargai dari capaian ilmu pengetahuan umum dan eksak saja. Aspek norma dan kebudayaan dipisahkan dari kurikulum. Padahal kalau kita ambil pelajaran dari dakwahnya Wali Songo dan ulama silam, budaya justru jembatan mengajarkan perubahan ke kehidupan lebih baik. Begitupula seharusnya dalam dunia pendidikan. Budaya Melayu yang kental ajaran Islam sarana membentuk siswa menjadi manusia berintegritas. Untuk ke sana mesti ada transmisi nilai. Mengajak mereka mengenal sejarah dan unsur budaya, adat serta seni. Jadi, siswa tidak mendapatkan pengajaran kognitif saja. Tapi juga diajak tahu budaya dan asal-usul bangsanya. Mereka pun dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari budaya. Penguatan identitas penting. Sebab inilah kelak mereka bawa. Penghargaan terhadap budaya sendiri akan meningkatkan kepercayaan diri. Tidak gampang terpengaruh budaya luar dan tak minder menghadapi bangsa lain. Kalau mereka sadar budaya agraris dan maritim adalah kekuatan bangsa ini, akan lahir generasi lebih baik di masa mendatang yang peduli dan bisa memanfaatkan keunggulan. Lewat penanaman budaya pula mereka mengetahui persatuan dan kesatuan warisan budaya bangsa. Mengajarkan bahwa perbedaan bukan kelemahan, justru mengisi kekurangan.

H. SOFYAN SIROJ ABDUL WAHAB, LC, MM. ANGGOTA KOMISI V DPRD PROVINSI RIAU

Baca Juga

BANSOS TANPA PAMRIH

Bantuan Sosial (Bansos) menjadi topik pembicaraan di berbagai media. Berawal dari keputusan Pemerintahan di bawah …