KEARIFAN LOKAL SOLUSI PERSOALAN GIZI

Hari Gizi Nasional (HGN) yang diperingati 25 Januari lalu punya arti penting. Baik skala nasional dan lokal. Lewat peringatan HGN diharapkan dapat membangun kesadaran bersama dan gerakan kolektif dalam rangka menjaga kesehatan melalui pemenuhan gizi seimbang. Berdasarkan laporan Nutrisi Global tahun 2021, satu dari sembilan penduduk dunia menderita kelaparan. Situasi kemiskinan dan kekurangan gizi menyebabkan hampir seperempat balita mengalami stunting. Bicara dalam negeri, dari hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyampaikan bahwa prevalensi stunting di Indonesia turun dari 24,4% di tahun 2021 menjadi 21,6% di 2022. Kendati menurun, angka tadi masih jauh dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yakni sebesar 14 persen di tahun 2024. Riau juga tengah berjuang hadapi stunting. Dalam momen HGN ditemukan pula paradoks sekaligus ironi. Bila di satu sisi banyak kekurangan makanan dan gizi, di sisi lain satu dari tiga penduduk dunia justru kelebihan berat badan (obesitas) akibat kelebihan makanan. Obesitas meningkat drastis hampir di seluruh negara dunia. Tak terkecuali Indonesia. Kembali ke data Kemenkes, prevalensi balita yang alami obesitas di tahun 2021 sebesar 3,8 persen dan di kalangan dewasa (usia 18 tahun ke atas) sebesar 21,8 persen pada 2018.

Berkaca pada situasi ganjil dan paradoks, Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes mengatakan bahwa banyaknya kasus stunting dan obesitas punya titik fokus sama, yakni kepedulian pentingnya pemenuhan gizi seimbang bagi masyarakat Indonesia. Semua harus kembali kepada makanan sehat, teratur dan gizi seimbang. Di tataran Pemerintah, Kemenkes cukup gencar mengampanyekan aksi bersama cegah stunting dan obesitas. Dalam program Kemenkes, berbagai intervensi ditempuh. Terdapat enam intervensi meliputi kegiatan konseling, promosi dan konseling menyusui, pemantauan pertumbuhan dan pengembangan, pemberian suplemen kepada ibu hamil dan remaja, penanganan masalah gizi dengan pemberian makanan tambahan serta tata laksana penanganan gizi buruk. Akan tetapi situasi masih jauh dari ideal. Penerapan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga sebagaimana diatur dalam Instruksi Presiden (Inpres) 1/2017 tentang Gerakan Masyarakat untuk Hidup Sehat (Germas), perlu mendapat perhatian dari seluruh pemangku kepentingan. Bentuk Germas antara lain: olahraga, makan sayur, buah dan ikan, menjaga kesehatan secara teratur, tidak merokok dan minum alkohol, dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta Lingkungan bersih.

Problem Serius

Momen HGN merupakan dorongan penting untuk meningkatkan kesadaran dan komitmen berbagai pihak untuk bersama-sama membangun gizi bagi bangsa dan menaruh perhatian lebih terhadap asupan makanan bergizi bagi tubuh. Karena tubuh sehat butuh suplai makanan yang baik. itulah kenapa tema besar HGN di RPJMN 2015-2019 adalah “Membangun Gizi Menjadi Bangsa yang Sehat Berkinerja”. Dalam konteks realisasi RPJMN di bidang kesehatan, gizi yang sehat melalui pola makan seimbang dan produksi pangan berkelanjutan dapat berkontribusi merupakan elemen utama. Namun tantangan pelaksanaan program perbaikan gizi masyarakat masih berkutat hambatan klasik, yaitu koordinasi dan penguatan intervensi sensitif serta konvergensi dan keberlanjutan program. Komitmen Pemerintah mulai Pusat hingga Daerah (Pemda) selaku pembuat dan pelaksana kebijakan sangat dinantikan. Setakad ini sudah banyak program dicanangkan dan dilaksanakan untuk memperbaiki gizi. Meski begitu, menengok gentingnya keadaan tak cukup seremonial dan pendekatan biasa. Program dicanangkan harus terus disosialisasikan secara masif khususnya oleh Pemda. Jangan urusanCovid 19 saja aspek kesehatan diterapkan secara ketat dan anggaran besar begitu mudah digelontorkan. Persoalan gizi yang mengancam masa depan bangsa pantas mendapat sorotan serius. Terlebih kondisi ekonomi dampak pandemi ditambah efek kenaikan BBM, membuat akses terhadap makanan layak makin sulit berhubung harga bahan pangan ikut melambung.

Menghadapi permasalahan kesehatan seperti pemenuhan gizi harus didukung intervensi sektor lain dan langkah-langkah khusus. Paling mendasar pemenuhan program perlindungan sosial guna menekan kemiskinan melalui Program Keluarga Harapan (PKH) dan PNPM, air bersih dan sanitasi dan program pemberdayaan perempuan. Terkait disebut terakhir, sebagaimana Perpres nomor 72 tahun 2021, satu dari sekian indikator menyasar masa sebelum kelahiran. Kalangan wanita sejak usia remaja atau sebelum kelahiran bayi, pengetahuan dan kondisi gizinya dibenahi. Berbekal pengetahuan perilaku makan dan asupan gizi yang baik, akan terbawa sampai dewasa dan memasuki kehamilan. Menyoal program, diantaranya Gerakan Aksi Bergizi pemberian tablet tambah darah pada remaja putri. Menurut Riskesdas tahun 2018, anemia pada remaja masih sangat tinggi di atas 20%. Sekedar informasi, Kemenkes bersama kementerian lainnya (Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi) sudah menyatakan dukungan melalui surat, ditujukan ke instansi binaan masing-masing di seluruh Indonesia. Gerakan dilaksanakan di 514 kabupaten/kota di 34 provinsi dengan minimal 2 sekolah atau madrasah serta pesantren di setiap kabupaten/kota. Saat ini sudah terinformasi 4.652 sekolah, madrasah, dan pesantren tingkat SMP, SMA dan sederajat di 514 kabupaten/kota siap berkontribusi dalam Gerakan Nasional Aksi Bergizi.

Terakhir tak kalah penting, intervensi berupa optimalisasi produksi pertanian bentuk dukungan nyata ketahanan pangan dan gizi rumah. Patut disyukuri, selama pandemi muncul kesadaran akan kesehatan. Di kalangan masyarakat, ditandai kebiasaan baik mengonsumsi makanan dan minuman sehat. Temuan tadi terangkum dari hasil survei berbagai tempat belanja online sepanjang tahun 2020-2022. Riau pun tak luput. Salah satu toko online terbesar di Indonesia mencatat sejumlah daerah di Riau (Kampar dan Dumai) masuk peringkat tertinggi peningkatan jumlah transaksi makanan dan minuman sehat. Fakta barusan sinyalemen bagus dan semestinya ditangkap sebagai peluang untuk memperkuat sektor pangan lokal. Dibangun stigma bahwa hidup sehat tak selalu harus mahal. Apalagi bangsa kita punya peradaban luar biasa dan banyak warisan berharga. Alangkah baiknya belajar ke masa lalu. Nilai dan kearifan lokal bisa jadi solusi bagi persoalan serius kehidupan modern. Contoh sederhana kebiasaan orang tua kita menyuruh makan di pagi hari. Sarapan sangat bagus untuk kesehatan. Tetapi sayang disepelekan. Hasil survei FOI di tahun 2020 menunjukkan bahwa 27 persen Balita Indonesia pergi ke sekolah (PAUD) dalam keadaan lapar atau tidak sarapan. Nenek moyang kita juga selalu ajarkan kembali ke alam. Termasuk pemenuhan nutrisi dan gizi. Banyak pangan lokal setelah dikaji ternyata kaya gizi. Semisal sagu yang identik dan lekat dengan Riau. Menurut pakar gizi, sagu mengandung manfaat diantaranya kalsium, zat besi dan kalium yang dibutuhkan anak tumbuh dan kembang sehat. Adapula tumbuhan “pasaran” kayak edamame kaya protein dan zat besi yang bagus untuk pertumbuhan sel dan banyak lagi. Kesimpulannya negeri kita tak kurang sumber nutrisi dan gizi. Membangkitkan pangan lokal solusi atas problematika gizi berikut misi membangunkan sektor pangan bangsa yang lama terlelap.

H. SOFYAN SIROJ ABDUL WAHAB, LC, MM. ANGGOTA KOMISI V DPRD PROVINSI RIAU

Baca Juga

SF Hariyanto Resmi Jabat Pj Gubernur Riau, Ini Respon Ketua Fraksi PKS DPRD Riau

Pekanbaru – Ketua Fraksi PKS DPRD Riau H. Markarius Anwar, ST, M.Arch mengucapkan selamat kepada …