RIAU DAN CITA DESTINASI MEDIS

H. SOFYAN SIROJ ABDUL WAHAB, LC, MM. ANGGOTA KOMISI V DPRD PROVINSI RIAU

Paska kunjungan kerja Presiden RI Joko Widodo di Bumi Lancang Kuning beberapa waktu lalu –yang mana Presiden menginisiasi pembangunan Rumah Sakit Pusat (RSP) jantung, otak dan uronefrologi rujukan regional Sumatera- rencana pembangunan memperlihatkan progres meyakinkan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah turun meninjau lokasi yang disiapkan untuk pembangunan rumah sakit milik Kementerian Kesehatan yakni di Jalan Naga Sakti Kelurahan Simpang Baru, tak jauh dari Stadion Utama Riau. Kunjungan pihak Kemenkes sekaligus jawaban atas agenda Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar sebelumnya kala menemui Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin di Kantor Kemenkes RI. Pihak Kemenkes pun menilai lahan sudah memenuhi syarat. Pembangunan RSP dijadwalkan akan dimulai Juni 2023 dan ditargetkan bisa diresmikan di tahun 2024 mendatang. Selaku masyarakat Riau, pembangunan RSP patut kita syukuri. Disamping bentuk respon atas tingginya angka kematian akibat jantung dan strok di Indonesia termasuk di Riau, RSP ini akan memainkan peran penting untuk kawasan Sumatera.

Kami mengapresiasi gerak cepat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau menyiapkan lahan pembangunan. Kepala Daerah dalam beberapa kesempatan belakangan pun sudah meminta ke jajarannya yakni Dinas Kesehatan dan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang nantinya akan ditugaskan di rumah sakit milik Pemerintah Pusat tersebut. Gubri Syamsuar menyampaikan permintaan sama dalam acara pertemuan dengan Rektor Universitas Riau (UR), Prof Dr Sri Indarti SE MSi dan jajarannya di rumah dinas. Supaya UR memberi dukungan berupa penguatan SDM tenaga kesehatan (Nakes) yang berkualitas. Selain itu, dalam pertemuan Gubri menyatakan komitmen rendah karbon sebagai bentuk implementasi program Riau Hijau dalam pembangunan RSP. Kami selaku Komisi V DPRD Provinsi Riau menaruh atensi besar ke tahap awal. Yang perlu digesa oleh Pemprov Riau tentu persiapan teknis hibah lahan. Jangan sampai hal-hal teknis seperti pemberian izin dan seterusnya menjadi kendala percepatan pembangunan rumah sakit yang dialokasikan di APBN sebesar Rp1,5 triliun.

Transformasi

Meski RSP belum dibangun, bukan berarti menunda rencana pengelolaan. Justru jauh-jauh hari Pemprov bersinergi dengan pusat dan berdiskusi tentang prospek RSP. Sehingga diperoleh gambaran langkah ke depan. Jangan keinginan bangun RSP sebatas menjawab fenomena maraknya masyarakat di Sumatera berobat ke negeri tetangga atau menandingi RS-RS destinasi medis di Malaysia dan Singapura. Kalau ini trigger-nya, pembangunan RSP tak akan berbicara banyak. Pengelolaan RSP harus punya cita-cita sendiri. Berani merumuskan nilai serta tujuan. Bukan copy paste. Keinginan meniru atau menandingi capaian RS negara tetangga hanya membuahkan pemikiran yang terpaku di satu titik. Batasan cita-cita RSP mestinya langit. Dengan begitu selalu berbenah tanpa lelah. Apalagi menurut kajian lembaga konsultan terkenal McKinsey’s, asa masyarakat atau konsumen terhadap layanan kesehatan semakin tinggi. Layanan lebih efisien, lebih baik dan lebih nyaman. Berkaca pada tuntutan, perlu transformasi signifikan dan struktur. Tanpa perubahan mendasar sektor kesehatan kita makin jauh ketinggalan.

Memang tantangan transformasi sistem kesehatan cukup kompleks. Satu sisi tuntutan mengembangkan pelayanan tapi disisi lain rasional dari segi biaya dan hasil bagus. Bagi kita, mendapati RS bagus dengan tarif rasional bak mimpi siang bolong. Namun tagline “berobat tak harus mahal” justru bisa diwujudkan negeri tetangga. Relatif mahalnya biaya berobat di dalam negeri bukan isapan jempol. Pengakuan tak hanya berasal dari WNI. Seorang WNA Malaysia, Ivy Phan yang juga seorang mahasiswa kedokteran gigi UGM berbagi pengalaman melalui akun medsosnya. Saat itu ia mengalami dislokasi tulang bahu dan memeriksakan diri. Walau bayar regular, Ivy tak mendapat perawatan atau pemeriksaan apapun. “Saya enggak diapa-apain. Dikasih obat, itu sudah Rp300 ribu. Wah luar biasa. Kalau di Malaysia, rumah sakit kerajaan atau pemerintah, berobat Rp15 ribu sudah dapat pelayanan bagus. Di sini harus bayar BPJS setiap bulan meski tidak sakit,” tuturnya. Sudahlah biaya agak mahal, Ivy bercerita perlakuan kurang menyenangkan dari dokter yang menangani.

Cerita di atas rahasia umum. Itulah kenapa muncul pemikiran selagi bisa hindari berobat ke RS. Ini memicu komplikasi penyakit dan ekses negatif lain. Dirunut-runut alasan tadi masuk akal. Sarkas bilang berobat di RS dalam negeri bukannya bikin sehat malah menambah penyakit. Proses mendaftar saja sudah menguras tenaga, emosi dan pikiran. Belum lagi tiba-tiba batal karena sang dokter punya agenda lain atau sikap jutek oknum RS. Pokoknya butuh kesabaran ekstra. Wajar Indonesia tertinggal. Tak usah bandingkan ke Malaysia dan Singapura. Dulu Vietnam terbelakang sektor kesehatan. Sekarang keadaan berbalik. Kemajuan Vietnam berlari sedang Indonesia merangkak. Indeks Kesehatan Nasional tiap tahun memang naik, tetapi sangat lambat. Sebenarnya bicara teknologi, menurut Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Profesor Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, beberapa RS dalam negeri telah memakai teknologi termutakhir di dunia. Begitujuga kualitas SDM tak kalah. Banyak dokter Indonesia terlibat riset-riset teknologi terbaru bidang medis semisal mobile digital X-ray berteknologi kecerdasan buatan (AI) FDR Nano. Cuman satu pengganjal yakni pelayanan dan sistem. Kasus malpraktik, kesalahan obat dan pelayanan-pelayanan yang membuat citra buruk terjadi saban waktu. Menyoal sistem belum terintegrasi. Contoh pengaplikasian Electronic Medical Record (EMR) atau Teknologi Rekam Medis yang dapat membantu dokter mengambil keputusan lebih cepat mendeteksi, memberi penanganan dini dan meningkatkan potensi kesembuhan pasien. Di berbagai negara sudah masif. Tapi Indonesia yang katanya masuk era industri 4.0, penerapan belum full. Beberapa catatan medis pasien masih berupa catatan kertas.

Target

Kita bertanya-tanya kenapa prestasi RS negara jiran menjulang. Seperti Malaysia di tahun 2019 layanan kesehatannya pernah diganjar prestasi terbaik di dunia dalam International Living Annual Global Retirement Index. Penilaian barusan standar emas (gold) perawatan kesehatan seluruh dunia. Malaysia memperoleh nilai 95 dari 100. Tercatat pula 13 rumah sakit mereka terakreditasi Joint Commission International (JCI). Tak heran Malaysia mencapai semua itu. Sebab tak berpuas diri menggagas sesuatu yang baru. Saat Indonesia beranjak ke 4.0, Malaysia jalani transformasi menuju transisi 5.0. Malaysia 5.0 mengaplikasikan inovasi revolusi industri 4.0 memadukan pendekatan fisik dan dunia digital. Secara ringkas 4 kunci transformasinya:  Pertama, merubah stigma RS dari semula pemusatan penyakit (disease-centred) menjadi tempat peduli pasien (patient-centred care). Tujuannya memastikan penerima layanan kesehatan diperlakukan secara terhormat, respek dan dilibatkan lebih jauh dalam pengambilan keputusan terkait kesehatan mereka. Kedua, penggunaan asisten kesehatan virtual sebagai media komunikasi dan memantau perkembangan pasien atau pengguna layanan kesehatan. Sehingga interaksi dengan pasien dapat terus terjaga sampai sehat. Tindakan yang membantu kesehatan pasien bukan pendekatan medis semata, komunikasi dan kepedulian ke pasien ikut menentukan. Ketiga, integrasi data dan pengkombinasian baik antar departemen di internal RS dan pemangku kepentingan guna meningkatkan pengalaman pasien lebih baik lagi. Keempat, seiring terintegrasinya data, tindakan dan pengobatan lebih presisi. Banyaknya kasus salah penanganan, salah obat, malpraktek bermula dari tidak paripurnanya pengetahuan terhadap lingkungan, gaya hidup dan data medis pasien.

Sektor kesehatan kita bisa kompetitif secara global. Asal bertekad berubah dan berbenah serta punya gagasan sendiri. Kembali ke RSP yang akan dibangun di Riau, kesempatan unjuk gigi Indonesia mampu jadi terbaik. Terkhusus bagi Riau, peran Pemprov paling dinanti mempersiapkan SDM. Nakes berkualitas penentu layanan. Kuncinya tanamkan mindset supaya mau bertransformasi ke arah lebih baik. Walau RSP milik Pusat namun keberadaannya di Riau bawa citra bumi lancang kuning. Nilai-nilai kearifan semestinya bisa diterapkan sebagai bahan membentuk SDM berkualitas. Terutama mengambil intisari dari ajaran Islam, bagian tak terpisahkan dari budaya Melayu. Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung di Semarang contoh konkrit penerapan konsep Islam dalam meningkatkan pelayanan. Sejumlah delegasi RS Malaysia bahkan telah studi banding ke sana dan tertarik mengadopsinya. Ajaran Islam pun sangat relevan dengan sektor kesehatan. Konsep syariah menggariskan pentingnya hifdzunnafs (memelihara jiwa) dan hifdzul’aql (memelihara fikiran/akhlak). Al Qur’an dan hadist banyak menyinggung masalah kesehatan jiwa dan raga. Rasulullah menghadapi orang sakit selalu beri wejangan menyenangkan hati dan melarang orang sakit berharap kematian. Islam juga banyak memunculkan tokoh-tokoh terkemuka di bidang kesehatan seperti Ibnu Sina dan lain-lain.

H. SOFYAN SIROJ ABDUL WAHAB, LC, MM. ANGGOTA KOMISI V DPRD PROVINSI RIAU

Baca Juga

KEMITRAAN KUNCI KEMAJUAN

Usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menempati posisi pertama jenis pekerjaan yang menyumbang banyak tenaga …