Perawat dan Masa Depan Bangsa

H. Sofyan Siroj Abdul Wahab, Lc, MM

Pekanbaru – Jumat 12 Mei 2023 bertepatan dengan peringatan Hari Perawat Internasional (HPI). Hari tersebut bukan saja momen berharga bagi entitas perawat di seluruh dunia. Akan tetapi juga bentuk penghargaan atas jasa, kerja keras dan pengorbanan mereka memberi pelayanan kepada masyarakat. HPI tambah penting diperingati sebab dengan begitu secara eksplisit terlihat wujud perhatian dan dukungan kita terhadap profesi perawat. Atensi juga modal berharga untuk mengenali segala tantangan yang dihadapi dunia perawat dan mengatasinya. Dengan pengenalan akan realita dan fakta, output-nya diharapkan berbuah pendekatan kebijakan sistem kesehatan lebih baik. Sayangnya bicara kondisi negeri kita, peringatan HPI berlangsung biasa saja. Beda di negara lain. Saking spesialnya HPI di negara seperti Australia, Kanada dan Amerika Serikat malah ada perayaan istimewa selama satu minggu. Perayaan tadi dikenal dengan Pekan Perawat Internasional. Sepintas cara barusan tampak seremonial belaka. Namun dikaji lebih dalam, pendekatan sederhana semisal perayaan sedikit banyak menunjukkan support dan keberpihakan negara. Bukan rahasia di negeri ini profesi-profesi esensial kayak perawat dan guru seolah kurang dihargai. Jasa mereka seakan dianggap angin lalu.

Bicara peringatan HPI, setiap tahun mengusung tema berbeda. Dilansir dari situs resmi International Council of Nurses (ICN) atau Lembaga Internasional Keperawatan, tema HPI 2023 adalah “Our Nurses. Our Future” yang artinya “Perawat Kita, Masa Depan Kita”. Sedikit mengulas asal muasal HPI terinspirasi dari sosok Florence Nightingale, seorang perawat asal Inggris pelopor perawat modern. Pemilihan 12 Mei didasarkan atas tanggal kelahirannya. Di tahun 1850-an, ketika Perang Krimea berlangsung, peran Nightingale begitu mengemuka. Ia berjasa merawat dan membantu tentara Inggris yang terluka. Keunggulannya bukan sebatas merawat. Ia menerapkan praktik tindakan medis tergolong revolusioner di masa itu. Kebersihan yang ketat saat merawat tentara terluka semisal mencuci tangan, memeriksa luka dan memantau kesembuhan secara berkala. Atas upaya Nightingale dan rekan-rekannya, berhasil menekan tingkat kematian tentara dari 42% ke 2%. Pengalaman mendorongnya mengkampanyekan reformasi dunia keperawatan. Di tahun 1860 ia membuka sekolah perawat yang menginspirasi berdirinya sekolah-sekolah pelatihan perawat di berbagai tempat dan belahan dunia.

Pengingat

Berangkat dari sejarah di atas, tergambar jelas betapa perawat berperan signifikan dalam ikhtiar menyelamatkan nyawa. Bicara konteks kekinian, HPI semestinya pengingat. Kisah Nightingale dan reformasi perawatannya menyajikan pelajaran berharga bagi perawat untuk terus mengembangkan diri demi pelayanan lebih baik. Kami yakin orang-orang yang memilih profesi perawat pada dasarnya paham dan sadar betul bahwa tugas yang mereka emban sangat mulia. Dalam perspektif agama, ladang pahala yang nilainya tak terhingga. Selain kemampuan medis, sikap, komunikasi dan interaksi sosial dan kemampuan memahami pasien dan warga yang berkunjung teramat dibutuhkan. Termasuk detail sederhana mengenai latar belakang budaya, kehidupan sosial, agama dan seterusnya merupakan elemen penting bagi petugas pelayanan kesehatan untuk membantu proses penerimaan pesan guna merencanakan akomodasi dan layanan yang sesuai kebutuhan pasien. Disamping kesadaran pribadi perawat, aspek lain turut menentukan kualitas perawat. Menyoal kesejahteraan misalnya, perawat salah satu profesi sejak zaman baheulak selalu diperbincangkan. Hingga kini belum sepenuhnya memperoleh upah layak. Tak bisa dipungkiri cukup banyak perawat penghasilannya dihargai di bawah upah minimum sektor swasta. Tak sedikit pula berstatus honor dan tenaga kerja sukarela di Faskes milik Pemda. Berkaca pada kondisi selama pandemi lalu, mereka berjibaku siang malam. Banyak para tenaga kesehatan terutama para perawat bertaruh nyawa. Meski menghadapi keadaan genting, masih saja belum diperlakukan sepantasnya. Kami di Komisi 5 DPRD Provinsi Riau secara konsisten terus meminta ke Pemerintah Daerah (Pemda) khususnya Pemprov Riau untuk bersungguh-sungguh memikirkan dan memperjuangkan nasib para perawat berstatus honorer di lingkup kewenangannya. Sempat miris manakala kabar 532 orang dari 686 peserta ujian seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian (PPPK) untuk jabatan tenaga kesehatan (Nakes) dinyatakan tak lulus. Padahal di lapangan distribusi tenaga kesehatan belum terpenuhi.

Sikap Pemprov Riau sehubungan dengan para perawat patut diapresiasi. Sebagaimana terwakili dalam pidato yang disampaikan Asisten II Setdaprov Riau, M Job Kurniawan pada apel akbar HUT Persatuan Perawat Nasional Indonesia (HUT PPNI) ke-49 di Halaman Kantor Gubernur Riau (17/03/2023). Tema HUT yang dipilih yakni “Gapai Sejahtera dengan Profesionalisme” mewakili problematika klasik dunia perawat kita. Dalam kesempatan acara, Pemprov Riau meminta asosiasi perawat dapat bersinergi bersama Pemprov Riau menjalankan program pemerintah terkait dengan bidang kesehatan dan peningkatan kinerja profesional perawat dalam memberikan pelayanan bagi masyarakat. Himbauan ini sudah tepat. Tetapi jangan giliran beban kerja saja diajak bersama-sama. Peningkatan dan penambahan Fasilitas Kesehatan (Faskes) memang vital. Tapi harus dibarengi kesejahteraan tenaga kesehatan. Berikut pengakuan keunikan profesi. Baik berbentuk kebijakan yang menghargai perawat, kemandirian dalam sistem kesehatan dan pembelaan hukum saat jalankan profesi. Kembali ke acara HUT PPNI, kita nantikan pembuktian pidato perwakilan Pemprov Riau yang menyatakan “Jika perawat sejahtera maka kinerja perawat juga akan semakin berkualitas. Pemprov Riau akan terus memperhatikan dan mengupayakan peningkatan kesejahteraan bagi perawat yang telah bekerja keras melayani masyarakat.”

Perhatian

Perhatian terhadap tenaga kesehatan utamanya perawat sepadan dengan kebutuhan. Apalagi Riau menghadapi segudang pekerjaan rumah sektor kesehatan. Mulai pemerataan sarana pelayanan hingga permasalahan mendesak seperti stunting. Ini memerlukan banyak SDM kesehatan. Kami berharap komunikasi Pemprov ke asosiasi perawat di bumi Lancang Kuning bukan momen tertentu saja, tapi intens. Mulai pembinaan dan bentuk penguatan lain. Dengan begitu muncul keterdukungan dari asosiasi perawat untuk terlibat dalam pengimplementasian transformasi sistem kesehatan melalui upaya mewujudkan sistem kesehatan yang tangguh, mencakup: Transformasi layanan primer; Transformasi layanan rujukan; Transformasi sistem ketahanan; Transformasi sistem pembiayaan; Transformasi SDM kesehatan; dan Transformasi teknologi kesehatan. Selain ke asosiasi, Rumah Sakit (RS) milik pemerintah diminta untuk dapat menjadi teladan pengelolaan SDM. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dilihat bukan hanya fasilitas fisik dan kelengkapan alatnya. Tapi juga sejauhmana kepedulian akan kualitas insan perawat guna meningkatkan derajat kesehatan. Bagaimana pun lingkungan ikut mempengaruhi. Kalau tata kelola SDMnya handal dan standar RSUD tinggi, akan berpengaruh ke tenaga kesehatannya.

Pembinaan dan kesejahteraan SDM perawat adalah kunci. Seiring meningkatnya kebutuhan Faskes dan bertambahnya jumlah pasien, konsekuensinya beban kerja tenaga medis berlipatganda. Efek samping pasti ada. Paling mengemuka berdampak ke pelayanan. Ketika pelayanan tak optimal, lumrah tenaga kesehatan objek paling sering diperkarakan dan paling mudah dijadikan “tumbal” oleh manajerial. Makanya manajemen harus bisa memperhitungkan. Jangan sampai tuntutan bertambah tapi SDM tak mumpuni. Bicara pembinaan, SDM berefek positif kepada masyarakat yang melakukan pengobatan. Begitu juga sebaliknya, kondisi SDM yang kurang baik akan menyebabkan pasien kesulitan dalam proses penyembuhannya. Menyinggung RSUD Arifin Ahmad, telah meraih akreditasi Paripurna atau bintang lima paska penilaian tim dari Badan Akreditasi Rumah Sakit (KARS) Kementerian Kesehatan RI tahun lalu. Capaian tadi mudah-mudahan dapat membawa pengaruh positif ke pelayanan. Maaf cakap, selama ini bukan sekali dua kali kasus keluarga pasien mengeluhkan pelayanan RSUD Arifin Achmad. Berbekal status lebih baik, mari beri contoh mengelola dan memperkuat tenaga kesehatan. Sebagai penutup, kami ucapkan selamat Hari Perawat Internasional. Semoga terus berbenah menuju insan lebih baik. Begitupula di sisi kebijakan. Makin baik kehidupan perawat semakin cerah pula masa depan bangsa.

H. SOFYAN SIROJ ABDUL WAHAB, LC, MM. ANGGOTA KOMISI V DPRD PROVINSI RIAU

Baca Juga

KEMITRAAN KUNCI KEMAJUAN

Usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menempati posisi pertama jenis pekerjaan yang menyumbang banyak tenaga …