RESET LEWAT I’TIKAF

H. SOFYAN SIROJ ABDUL WAHAB, LC, MM. ANGGOTA DPRD PROVINSI RIAU

Nama Provinsi Riau beberapa waktu belakangan populer di pemberitaan nasional dan jagad dunia maya. Mirisnya bukan dalam konteks positif. Komen di sosial media (Sosmed) bukan hanya berasal dari putra daerah Riau, tapi se nusantara. Tak pelak kalangan tokoh masyarakat Riau turut menyuarakan kegetiran atas rangkaian peristiwa menimpa negeri Melayu. Diantaranya Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR) yang menyatakan keprihatinan mendalam. Pergunjingan nama Riau yang berkepanjangan secara nasional dinilai telah mencoreng marwah Riau sebagai Tanah Melayu (Home Land of Melayu). Dalam pernyataan lewat media massa  lokal, FKPMR memberi catatan terhadap lima peristiwa. Dimulai viralnya gaya hidup istri dan anak yang menyeret nama Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Riau SF Hariyanto. Sorotan netizen begitu besar. Sampai-sampai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Sekda Riau guna menklarifikasi harta kekayaan dimilikinya. Persoalan tambah runyam paska Sekda memberi penjelasan di laman resmi Pemerintahan Provinsi Riau. SF Hariyanto berdalih informasi beredar di medsos tak sepenuhnya benar dan perlu diluruskan agar tidak menjadi fitnah di tengah-tengah masyarakat. Penjelasan barusan malah mendapat serangan balik berupa pengungkapan fakta baru lainnya dari lini media massa dan sosial media.

Belum reda kejadian di atas muncul peristiwa hukum menimpa Bupati Meranti dan isu disharmoni kepemimpinan daerah. Perihal disebut terakhir, sangat disayangkan mengemuka ke publik. Penuturan Wakil Gubernur Riau (Gubri) Edy Natar Nasution bikin geger. Mantan Danrem 031 Wira Bima itu menyampaikan permohonan maaf ke masyarakat atas pembatalan Safari Ramadhan. “Maaf, saya tidak melanjutkan Safari Ramadan karena ada perlakuan yang tidak adil dari Gubernur. Saya harap masyarakat bisa memahami dan tidak kecewa dengan pembatalan yang saya lakukan ini,” Ujarnya dikutip dari media. Kami selaku pihak legislatif memandang kondisi tersebut kurang elok didengar. Imbasnya memicu persepsi tak baik. Tersiar pula kabar bantuan dimaksud berasal dari dana CSR. Makin heboh seiring beredarnya pesan WhatsApp Wagubri yang memancing praduga politisasi acara Safari Ramadan. Meski dibantah Wagubri, tapi isu terlanjur menyebar. Di luar perkara tadi, sensitivitas kebijakan juga dipertanyakan. Semisal kritikan masyarakat atas pengadaan mobil listrik baru teruntuk sejumlah pejabat tinggi Provinsi Riau yang memakai APBD Riau 2023 sebesar Rp 10,4 miliar hingga proyek Payung Elektrik Masjid Agung Annur senilai Rp42 miliar yang sudah rusak padahal pengerjaannya belum rampung 100 persen. Kegusaran masyarakat memuncak mungkin disebabkan saat yang sama kondisi jalan banyak rusak dan problem di berbagai sektor. Apalagi sempat viral warga dan komunitas berswadaya memperbaiki jalan rusak. Sebuah ekspresi kekesalan. Di saat masyarakat butuh perhatian, pimpinan mereka sibuk urus agenda masing-masing. Kami memandang ini bahaya. Jangan sampai gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga. Efeknya warga bisa apatis dan mengeneralisir semua pengemban amanah di daerah kelakuan sama.

Kontemplasi

Beragam kabar negatif yang mewarnai Riau tak bisa dipandang sebelah mata. Ini musibah. Harus ada upaya intropeksi menyeluruh. Kita bukan malaikat serba sempurna. Dalam kehidupan pasti ada cabaran yang semua datang dari sisi manusia sendiri. Itulah kenapa misi utama Rasulullah diutus ke dunia untuk memperbaiki perilaku. Karena Allah SWT sadar betul kita bukan mahluk yang suci dan sangat rentan dari segala macam perbuatan keluar dari kehendak Allah SWT. Selagi kita tak angkuh, jujur mengakui ketika terjerembab ke jurang kesalahan dan tidak selalu mencari pembenaran walau sudah nyata-nyata keliru serta berani menerima kritikan, maka sungguh Allah SWT dapat membalikan keadaan dari kondisi hina ke mulia. Itulah kenapa di dalam Islam tersaji banyak metode intropeksi. Diantaranya ihtisab atau istilah modernnya self-examination. Maknanya, suatu perbuatan yang sengaja dilakukan untuk meningkatkan kualitas diri dengan selalu mempertanyakan pribadi: siapa dan mau ke mana tujuan hidup; sudah memberi manfaat atau justru sebaliknya menghadirkan mudharat. Melalui ihtisab kita bakal selalu mawas, jaga diri dan lebih waspada. Sekali lagi tak bisa dinafikkan berperilaku buruk lebih mudah daripada selalu berbuat baik. Terutama ketika bersinggungan dengan harta, kekuasaan, keturunan dan isteri. ”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Q.s. Al-Anfal: 28).

Upaya intropeksi semakin dimudahkan dalam suasana Ramadhan. Terlebih setiap insan muslim yang berpuasa dituntun oleh keadaan dan lingkungan untuk menjadi pribadi positif. Satu amalan dianjurkan di bulan Ramadhan yang pantas diketengahkan adalah I’tikaf yang terletak di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Itikaf bermakna berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT (taqarrub ilallah). I’tikaf tak hanya dikenal oleh umat nabi Muhammad SAW, namun juga dikerjakan umat terdahulu. Seperti masa Nabi Ibrahim, sebagaimana firman Allah SWT:  “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.” (QS Al Baqarah ayat 125). I’tikaf juga dilakukan ibu Nabi Isa yakni Sayyidati Maryam yang memiliki tempat itikaf sendiri di mihrab. Tempat itu juga dijadikan nabi Zakaria berdoa kepada Allah (Ali Imran: 37-39). Mengacu ke sejarah I’tikaf yang jauh ke belakang menandakan begitu besar manfaatnya. Seorang beri’tikaf bukan sebatas me-reset kedekatannya dengan Tuhan, tetapi juga dapat memperbaiki hubungan ke sesama manusia (habluminannas). Orang beri’tikaf akan mengevaluasi amalan pernah dilakukan dan merencanakan amalan selanjutnya. Termasuk kesalahan yang sudah dilakukan ke sesama. Bagi seorang sosok pemimpin, ini instrumen teramat penting. Tanpa kesadaran dirinya mahluk lemah hanya akan melahirkan sosok otoriter dan arogan. Memandang pihaknya paling benar dan yang berseberangan pendapat pihak yang salah. I’tikaf dapat menjadi sarana ampuh untuk mendeteksi kekurangan individu, hidup dalam komunitas, bermasyarakat dan berbangsa. Jika setiap pribadi muslim dapat menempuhnya, niscaya Allah SWT akan memberkahi dengan keadaan lebih baik.

H. SOFYAN SIROJ ABDUL WAHAB, LC, MM. ANGGOTA DPRD PROVINSI RIAU

Baca Juga

MEWASPADAI KEBANGKRUTAN NASIONAL

Sebagaimana diketahui, tanggal 20 Mei sudah ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional (HKN). Kesempatan baik untuk …