Berharap Tuah Melayu

H. Sofyan Siroj Abdul Wahab, Lc, MM

Pekanbaru – Tanggal 23 Juni Kota Pekanbaru merayakan hari jadi ke-239. Sebagai warga banyak cita, asa dan harapan dari masing-masing kita. Dalam momen istimewa ini perlu pula disampaikan bahwa Pekanbaru bukan hanya milik warga yang berdomisili di situ. Mengingat status sebagai ibukota provinsi, Pekanbaru punya tempat spesial di hati masyarakat Riau umumnya. Seumpama rumah tangga, prediket “ibu” sangat bermakna. “Ibu” identik sosok penyayang, menciptakan harmonisasi dan perekat sesama anggota keluarga terutama kala berkonflik. Ibu pula karakter yang memberi teladan dan rela berkorban demi kepentingan keluarganya. Spirit serupa inilah hendaknya dimiliki Pekanbaru. Siapapun yang diserahi amanah memimpin mesti paham konsekuensi dari status ibukota Pekanbaru. Disamping menata kota menuju lebih baik lagi, juga dapat mewarnai dan memberi manfaat secara langsung dan tidak langsung ke kabupaten/kota lain di Riau. Apa gunanya menyandang kata “ibu” jika hanya memikirkan diri sendiri? Inilah yang mendasari muncul sejumlah ide atau gagasan kerjasama antara wilayah, semisal Pekansikawan (Pekanbaru, Siak, Kampar dan Pelalawan). Supaya dapat berkolaborasi dan saling melengkapi demi satu tujuan: kemajuan Riau.

Berangkat dari narasi di atas, maka Pekanbaru mesti dikelola sebaik-baiknya. Lantas muncul pertanyaan, bagaimana cara mengelolanya? Pertanyaan semakin urgen diajukan berhubung tantangan dan perubahan selalu menghadang. Terlebih Pekanbaru menjelma menjadi kota modern dan masuk kelompok kota terdepan di Indonesia. Persoalan khas perkotaan turut menghantui kayak macet, sampah dan sebagainya. Batu kerikil bukan hanya urus-mengurus kota. Tapi juga menyikapi propaganda luar yang bertentangan kayak paham sesat LGBT. Semua problematika bukan inti perkara. Falsafah paling utama. Tanpa landasan berpikir dan bertindak, maka Pekanbaru tak ubahnya kota besar lain. Modern iya, maju iya, tapi hampa nilai. Terkait nilai menarik untuk diangkat. Apalagi Penjabat (Pj) Wali Kota (Wako) Muflihun mengembalikan Pekanbaru ke slogan lamanya yakni Kota Bertuah, menggantikan tagline Kota Madani yang disematkan Wako Pekanbaru sebelumnya Firdaus ST MT. Julukan Kota Bertuah punya nilai historik dan nostalgia, yang lekat dengan sosok Wako Pekanbaru periode 2001-2011 yakni almarhum Herman Abdullah. Mengutip liputan khusus harian Riau Pos, Herman Abdullah bercerita bahwa julukan Pekanbaru Kota Bertuah didapat melalui perjalanan panjang dan berpuluh tahun. Bermula di penghujung masa pemerintahan H Ibrahim Arsyad SH (1981-1986). Saat itu Kementerian Lingkungan menyurati dan meminta harus ada motto dan di-Perda-kan demi mengikuti lomba kebersihan tingkat nasional. Herman Abdullah juga berkata bahwa sah-sah saja membangun tugu dan membuat moto pemerintahan. Namun dia berharap, Pemko bisa bedakan antara batang dan cabang.

Di sini menariknya. Bahwa apapun mottonya (Madani dan lainnya) tak masalah. Selagi menjadi jalan yang akan menyampaikan cita- cita Pekanbaru Kota Bertuah. Makna inilah yang musti dipahami secara mendalam dan dijadikan dasar atau pijakan dalam mengelola Pekanbaru. Kalau bercermin ke realita, sejak awal bergulirnya wacana kembali ke slogan Kota Bertuah tak begitu tampak ide konkrit dibaliknya. Justru kelihatan sebatas mengedepankan sentimen semata. Memang penafsiran Pj Walikota di berbagai kesempatan yang mengartikan bertuah itu bersih, tertib, usaha bersama, aman, harmonis tak keliru. Akan tetapi apa yang disampaikan tadi hanya sekian dari banyak output bertuah yang cakupannya begitu luas. Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), asal kata bertuah yakni tuah yang bermakna mendatangkan untung (keselamatan dan sebagainya): punya pesona. Selain itu kata tuah juga punya makna luar biasa yaitu setelah mendapatkan yang lebih baik, yang kurang baik ditinggalkan. Mengacu ke pengertian diperoleh kesimpulan bertuah memerlukan sebuah nilai utama. Adapun nilai dimaksud tentu saja Melayu.

Nilai melayu lah jalan yang akan menghantarkan Pekanbaru mencapai tuahnya. Namun sangat disayangkan masih sering terjadi mispersepsi. Melayu memang dipengaruhi ajaran Islam. Tapi menganggap manfaat nilai Islam hanya untuk satu umat beragama jelas salah. Ajaran Islam pada dasarnya memotivasi semua insan untuk berbuat maslahat dan menebar kebaikan. Inilah sumber kemajuan. Termasuk bersikap profesionalitas, amanah dan etos kerja. Oleh karena itu, bertuahnya Pekanbaru bukan dilihat dari seberapa cantik dan megah tugu yang dibangun. Bukan pula seberapa besar ukiran tulisan Kota Bertuah terpampang. Tak bisa pula diraih dan dicapai bermodalkan pakaian melayu dan simbol budaya. Sesuai petuah Hang Tuah: “Tak kan melayu hilang dibumi, Bumi bertuah negeri beradat.” Artinya ditentukan seberapa besar komitmen kita menjaga dan berupaya menerapkan nilai-nilai melayu di setiap lini. Sekarang justru kebalik. Sisi ekstrinsiknya ditonjolkan sementara intrinsik dilupakan. Untuk hal sederhana saja misalnya, hiburan perayaan HUT Pekanbaru. Pemko selalu bangga hadirkan artis Ibukota. Padahal tak sedikit putra daerah yang berprestasi di bidang seni. Paling hangat Putri Ariani kelahiran Kampar Riau yang sukses di ajang seni pertunjukan internasional. Kehadiran musisi potensial daerah bisa diselaraskan dengan berbagai upaya, sebutlah membuat acara eksibisi atau menkover lagu melayu popular. Upaya tadi sedikit banyak dapat melestarikan seni melayu dengan pendekatan kekinian. Daripada artis ibukota yang ironisnya malah mengundang artis yang pernah kesandung kasus Narkoba saat puncak HUT ke-238 Pekanbaru. Kalau begini bagaimana mungkin mau mendapat tuah?

H. SOFYAN SIROJ ABDUL WAHAB, LC, MM. ANGGOTA DPRD PROVINSI RIAU DAERAH PEMILIHAN KOTA PEKANBARU

Baca Juga

BANSOS TANPA PAMRIH

Bantuan Sosial (Bansos) menjadi topik pembicaraan di berbagai media. Berawal dari keputusan Pemerintahan di bawah …